Jadi Juri di Amerika, Doktor Arief Wakili Sumbawa dan UTS

oleh -3 views
Doktor Arief Menjadi Juri di IGEM 2014, Boston Amerika
bankntb

Boston, SR (02/11)

Doktor Arief IGem 2Menjadi juri di iGEM 2014—kompetisi syntetic biology dunia di Boston Amerika Serikat, adalah yang pertama sekaligus kebanggaan. Inilah yang dirasakan Dr Arief Witarto Ph.D—Dekan Fakultas Tekhnobiologi Universitas Tekhnologi Sumbawa (FTB UTS) satu-satunya juri perwakilan Indonesia yang akan menilai hasil karya tim dari berbagai negara di dunia. Tentu ini menjadi pengalaman yang sangat prestisius sekaligus tantangan untuk dapat memberikan penilaian obyektif dan masukan bagi tim dalam menyempurnakan hasil temuannya yang nantinya diharapkan dapat memberikan manfaat bagi umat manusia di masa mendatang.

amdal
tim China yang dinilai Doktor Arief
tim China yang dinilai Doktor Arief

Ditemui di Hynes Convention Center usai menjadi juri bagi tim China dan Jepang, Doktor Arief—akrab pria sederhana ini disapa, mengaku menjadi juri di kompetisi dunia bukan hanya mewakili dirinya, tapi Indonesia khususnya Kabupaten Sumbawa dan UTS. Selama menjadi juri, Ia mengaku tidak menemui banyak kesulitan karena telah diarahkan para juri senior yang sebelumnya pernah beberapa kali menjadi juri di event yang sama. Dalam menilai peserta kompetisi, dewan juri dibagi menjadi dua bidang penilaian yakni bidang pengukuran dan bidang energi. Doktor Arief diplot menjadi juri di bidang energi, hal ini untuk menghindari adanya kepentingan yang membuat penilaian tidak obyektif, sebab Sumbawagen UTS yang menjadi timnya berada di bidang pengukuran. “Saya inginnya di bidang pengukuran, tapi panitia tidak membolehkan menjadi juri di bidang yang ada timnya berlomba. Ini dilakukan agar hasil penilaian benar-benar obyektif,” katanya.

Baca Juga  'Negara Pajak' dan 'Negeri Denda'

Kendati demikian, dewan juri sudah berkomitmen untuk melaksanakan tugas dengan baik, tanpa ada tendensi dan harus memberikan penilaian secara obyektif. Peluang untuk memihak sangat kecil, karena untuk satu tim dinilai oleh 3-5 orang juri. Dan untuk memutuskan siapa peraih medali emas, perak dan perunggu, melalui seleksi yang ketat yang kemudian diputuskan dalam rapat besar melibatkan seluruh juri yang ada.

Selama tiga hari menjadi juri, kata Doktor Arief, dia melihat kemampuan tim dari beberapa negara cukup beragam. Ada tim yang hasilnya luar biasa, semua kegiatannya dikerjakan dan ada hasilnya. Ada juga tim yang idenya hebat, namun pelaksanaannya kurang. Selain itu, ada tim yang digugurkan dewan juri karena dinilai melanggar aturan meski perfomance, penguasaan materi dan hasil karyanya cukup bagus. Ini terjadi karena tim tersebut tidak mengikuti aturan yang ditetapkan panitia, salah satunya setiap laporan atau proyek tim harus dikirim seminggu sebelum hari H ke website panitia guna menghindari adanya rekayasa dan perubahan laporan sekaligus memastikan proyek tersebut hasil karya mahasiswa sendiri. Namun tim dimaksud tidak melakukannya.

“Juri tidak sekedar mencari kekurangan atau kesalahan tim. Juri dianjurkan bisa memberikan pujian dan masukan untuk perbaikan ke depan. Sifatnya tidak menghakimi tapi dapat berperan sebagai mentor atau guru yang memberikan pembinaan sehingga tim tetap bersemangat dalam menyempurnakan karyanya di masa mendatang. Kecuali yang melanggar aturan tidak akan dimaafkan,” tegas Doktor Arief.

Baca Juga  TGB: Anak Muda Berkarakter Baik, Tulang Punggung Suatu Bangsa

Menjadi juri tentunya mengetahui apa yang akan menjadi item penilaian. Ini sangat menguntungkan terutama bagi timnya (Sumbawagen) sehingga dirinya dapat memberikan masukan agar kekurangan yang ada dapat segera diperbaiki sebelum tampil memberikan presentasi. (*) Baca juga di Gaung NTB

iklan bapenda