Alat Sensor Ciptaan FTB UTS Disambut Hangat Petani Madu

oleh -13 views
bankntb

Sumbawa Besar, SR (22/10)

Proyek UTS (1)Pengenalan alat sensor Econey (E.coli honey) oleh Tim Sumbawagen Fakultas Biotekhnologi (FTB) Universitas Tekhnologi Sumbawa (UTS) disambut hangat masyarakat terutama petani madu hutan di Desa Batu Dulang Kecamatan Batu Lanteh dan Desa Gapit Kecamatan Empang. Sebab alat hasil rekayasa gen bakteri E.coli ini memiliki kemampuan untuk mendeteksi kadar glukosa dalam madu. Apalagi alat sensor temuan ilmuwan muda UTS ini akan dimodifikasi menjadi perangkat lunak (aplikasi) pada handphone adroid, sehingga memudahkan petani madu dalam mendapatkan hasil madu yang berkualitas sekaligus mencegah terjadinya pemalsuan madu Sumbawa yang selama ini marak dilakukan oknum-oknum tertentu.Proyek UTS (3)

Seperti yang dikemukakan Junaidi—Ketua Koperasi Hutan Lestari Batu Dulang Kecamatan Batu Lanteh. Ia dan petani madu sangat antusias menyambut kehadiran alat yang diciptakan mahasiswa FTB UTS ini terutama dalam mengetahui keaslian madu. Sebab masih banyak masyarakat Sumbawa yang meragukan keaslian madu Sumbawa. Selama ini untuk memastikan asli dan tidaknya madu, atau mengetahui tingkat kadar glukosa (gula) dalam madu, mereka harus mengirim sampel ke laboratorium luar daerah. Tentu membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang tidak sedikit. “Alat ini sangat membantu kami dalam menjaga kualitas madu Sumbawa yang menjadi komiditi unggulan dan terkenal di seluruh nusantara,” ucapnya, seraya menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa UTS atas karya yang sangat luar biasa tersebut.

Hal senada dikatakan Ketua Jaringan Madu Hutan Sumbawa (JMHS) A Rakib. Ia menyatakan sangat mendukung kegiatan mahasiswa UTS ini karena akan sangat membantu mereka dalam upaya mengembangkan madu hutan. “Ini merupakan sebuah langkah positif dalam memajukan daerah Sumbawa,” tandasnya.Proyek UTS (4)

Baca Juga  Bupati Sumbawa Puji Pagelaran Festival SAMBA

Sementara itu Fahmi Dwilaksono—mahasiswa FTB UTS yang tergabung dalam Tim Sumbawagen  mengatakan, sosialisasi Econey ini merupakan bagian dari kegiatan Policy and Practise Tim Sumbawagen yang dilaksanakan di Gapit dan Batu Dulang. Kegiatan yang dinamakan Econey Meet the Farmer ini bertujuan untuk memperkenalkan project tim Sumbawagen kepada masyarakat khususnya untuk produsen dan distributor madu.

Kegiatan tersebut berlangsung dalam tiga sesi, diawali dengan pengenalan project termasuk alat sensor yang diciptakan, selanjutnya mengajarkan masyarakat bagaimana cara menggunakan peralatan yang tersedia di laboratorium seperti mikropipet, shaker, dan lainnya. Masyarakat juga dipersilahkan untuk mencoba melakukan prosedur cara menguji kandungan glukosa madu menggunakan bakteri hasil rekayasa FTB UTS (Econey). Masyarakat diperkenalkan metode pengukuran glukosa menggunakan software android. Metode pengukuran ini akan memudahkan masyarakat dalam melakukan penentuan kadar glukosa. Wawasan petani madu ini semakin bertambah ketika Tim Sumbawagen memperkenalkan bioteknologi dan sintetik biologi melalui poster. Sebenarnya masyarakat sangat dekat dengan ilmu ini, karena produk-produk bioteknologi tersebut kerap digunakan. Hanya masyarakat masih belum mengetahui peran bioteknologi dalam produk tersebut. “Melalui kegiatan ini masyarakat diharapkan lebih memahami apa itu bioteknologi, sintetik biologi, dan perannya dalam kehidupan,” jelas Fahmi yang didampingi rekannya, Adelia Elviantari, Cindy Suci Ananda, Indah Nurulita, Mochammad Isro Alfajri, Muhammad Al Azhar, Rian Adha Ardinata, dan Yulianti.  Proyek UTS (2)

Lebih jauh dikatakan Finalis AMINEF National WORDS Competition 2011 ini, selain pengenalan hasil karya FTB kepada masyarakat, project tersebut bagian dari persiapan mereka dalam mengikuti kompetisi internasional, IGEM (International Genetically Engineered Machine) yang digelar di Boston Amerika Serikat, 27 Oktober—5 November 2014. IGEM merupakan kompetisi tahunan yang sangat bergengsi karena merupakan arena untuk mengemukakan dan mengembangkan ide-ide terdepan dalam bidang bioteknologi. Secara umum, kompetisi dan perancangan proyek iGEM ditujukan untuk memotivasi dan menyediakan media pembelajaran yang efektif di bidang synthetic biology. Kompetisi ini diikuti oleh universitas-universitas ternama dari seluruh dunia yang ditantang untuk mengembangkan prototype organisme berbasis synthetic biology. Dalam kompetisi ini mahasiswa FTB UTS akan bersaing dengan mahasiswa universitas terkemuka dunia seperti Harvard University, Massachusetts Institute of Technology, University of Groningen, Imperial College London, University of Tokyo dan universitas terkemuka lainnya. Untuk kompetisi iGEM 2012 tercatat sebanyak 191 tim dan lebih dari 3000 partisipan dari 34 negara yang berpartisipasi pada kompetisi ini. Jumlah ini meningkat menjadi 216 tim pada Tahun 2013. Hal yang menarik dari iGEM adalah kreativitas para peserta dalam mengembangkan synthetic biology sebagai proyek yang inovatif dan prospektif. Setelah melakukan pendaftaran, tim akan mendapatkan kit berupa DNA berbasis Registry of Standard Biological Parts yang dapat disusun sesuai rancangan proyek. Tim akan bekerja pada laboratorium di universitas masing-masing untuk merancang project mereka. Rangkaian kompetisi iGEM tidak hanya ditujukan untuk berkompetisi dan berkarya dalam merancang project dalam laboratorium, karena tim juga memiliki kewajiban untuk memperkenalkan synthetic biology kepada masyarakat dan menjelaskan aplikasinya dalam menunjang kehidupan di masa depan melalui kegiatan human practice. “Segala bentuk kegiatan mulai dari rancangan sistem, laboratorium, human practice, hingga championship akan dipublikasikan melalui wikipage tim,” paparnya. (*) Baca juga di Gaung NTB

iklan bapenda