Aneh, Tubuh Bayi 2,3 Tahun Menyusut

oleh -6 views
bankntb

Butuh Uluran Tangan 

Sumbawa Besar, SR (20/10)

amdal
Bayi Alifah digendong ibunya
Bayi Alifah digendong ibunya

Kondisi Alifah Ramdhani sangat memprihatinkan. Tubuh bayi yang berusia 2,3 tahun ini terus menyusut. Belum diketahui penyebab dari penyakit aneh yang menimpa anak ketiga pasangan Sri Astuti dan Syafruddin ini. Sejak lahir hingga kini bayi malang tersebut hanya bisa terbaring lemah tak berdaya. Meski Alifah tetap mendapat asupan makanan dan air susu ibunya, namun tubuhnya tidak berkembang, malah sebaliknya kian mengecil. Jika dilihat bayi perempuan yang lahir 24 Juli 2012 silam ini seperti tubuh bayi prematur. Alifah hanya bisa menyebut kata “mama” selebihnya menangis, tidak seperti layaknya bayi seumurannya yang sudah bisa berjalan dan berbicara.

Menurut Sri Astuti yang ditemui di kediamannya, RT 05 RW 01 Kelurahan Lempeh, Sabtu (18/10), tidak ada keanehan saat dia mengidam, hanya sering mengkonsumsi tape (poteng, Red). Bayinya pun lahir di RSUD Sumbawa dalam usia kandungan 8 bulan namun memiliki berat normal 2,9 kilogram. Kelahiran Alifah tentu disambut gembira Sri Astuti dan suaminya karena baru dikaruniai anak perempuan setelah anak pertama dan keduanya adalah laki-laki. Alifah tumbuh dengan baik hingga usia tiga bulan. Namun setelah itu secara tak terduga tubuhnya tidak berkembang dan semakin lama kian menyusut. Sri mengaku panik dan sempat membawa anaknya ke Posyandu yang berada tidak jauh dari lingkungan tempat tinggalnya. Petugas setempat pun menyatakan Alifah menderita gizi buruk dan menyarankan untuk dibawa ke Puskesmas Seketeng. Saran itupun diikuti demi kesehatan Alifah. Setelah diperiksa sejenak, Alifah dipulangkan, yang kemudian selama dua hari petugas datang ke rumahnya mengontrol kondisi Alifah. Selama itu pula, Sri dan suaminya tidak pernah mengetahui apa penyakit yang diderita anaknya, karena memang tidak satupun petugas medis yang menginformasikannya. “Sampai sekarang saya tidak tahu apa penyakit anak saya. Dan petugas puskesmas hanya datang dua kali menengok Alifah itupun saat umurnya masih 3 bulan,” aku Sri.

Baca Juga  Bupati KSB Instruksikan Gerakan Gotong Royong

Kondisi Alifah ini diperparah dengan kondisi ekonomi orang tuanya. Alifah hanya makan apa adanya, karena untuk asupan gizi, profesi orang tuanya sebagai penjual sayur dan buruh tani tidak mampu untuk memenuhi kebutuhannya. Dengan kondisi fisik yang kian menyusut, Alifah peka terhadap penyakit. “Kalau kena hembusan angin, Alifah sesak napas. Makanya Alifah lebih banyak di dalam rumah daripada di luar,” aku Sri.

Hamzah Ketua RW 05 Lempeh
Hamzah Ketua RW 05 Lempeh

Sri juga mengaku tidak pernah membawa anaknya ke rumah sakit. Ia menilai upaya itu sia-sia karena tidak cukup membantu, dan melainkan pasrah menjaga Alifah di dalam kamar. Karena sering di dalam kamar, warga di lingkungannya tidak mengetahui keberadaan bayi tersebut.

Keberadaan Alifah diketahui secara tak sengaja oleh calon kader Posyandu, Dewi Yuliana Anggraini yang melakukan pendataan menyusul rencana akan dibangunnya Posyandu di lingkungan setempat, karena posyandu hanya ada di RW berbeda yang jangkauannya cukup jauh. “Kami baru tahu ternyata ada seorang bayi di lingkungan kami yang kondisinya memprihatinkan,” kata Yul—akrab calon kader ini disapa.

Sementara Ketua RW setempat, Hamzah mengatakan kondisi Alifah harus segera mendapat penanganan. Pihak terkait diharapkan dapat memberikan perhatiannya, apalagi Alifah tidak terakomodir BPJS. “Hanya orang tuanya saja yang tercatat dalam BPJS,” kata Hamzah.

Ia mengaku mengetahui ketika hendak mendirikan Posyandu di RT 05 RW 01 Kelurahan Lempeh ini. Hamzah meminta dua calon kader Posyandu, untuk mendata ibu yang memiliki anak di bawah umur 5 tahun sebagai bahan laporan ke puskesmas sebagai syarat mendirikan Posyandu. “Saat pendataan inilah baru saya tahu, kalau ada bayi yang kondisinya tidak normal,” akunya.

Baca Juga  Ribuan Simpatisan Hadiri Kampanye Akbar NURMAS

Ia berharap pemerintah daerah melalui dinas terkait dapat memberikan perhatiannya, sehingga ada penanganan lebih lanjut terhadap kondisi Alifah. (*) Baca juga di Gaung NTB

iklan bapenda