Pulau Moyo Dibabat, Bupati Desak Langkah Kolektif

oleh -0 views
Kondisi hutan Pulau Moyo setahun silam
bankntb

Sumbawa Besar, SR (18/10)

Bupati Sumbawa, Drs H Jamaluddin Malik
Bupati Sumbawa, Drs H Jamaluddin Malik

Kerusakan hutan di Pulau Moyo sungguh memprihatinkan. Ironisnya lagi, kondisi hutan yang mendukung keindahan alam pulau yang sudah mendunia ini terekam media nasional sehingga menjadi topik utama dalam pemberitaan. Terungkapnya perambahan hutan tersebut ketika sejumlah wartawan nasional dan beberapa wisatawan menjelajah belantara Pulau Moyo dalam rangka mendukung pariwisata Sumbawa melalui kegiatan Festival Moyo.

Tujuan traveling antara lain melihat keanekaragaman budaya dan melihat keindahan alam. Namun yang mereka temui di lapangan tepatnya jalur Sebotok dan Labuan Aji sangat miris menyaksikan aksi penebangan liar. Pohon dibabat dan dibakar habis sehingga hutan rimbun itu berubah menjadi gurun baru yang gersang dan panas.

Bupati Sumbawa, Drs H Jamaluddin Malik yang dicegat usai menerima mahasiswa UTS di ruang kerjanya, Jumat (17/10) mengaku kaget mendengar informasi tersebut. Bahkan Bupati terlihat ssedikit geram dan menyatakan persoalan itu tak boleh dibiarkan terus berlangsung. Tentunya harus ada langkah-langkah kongkrit di lapangan yang dilakukan secara kolektif oleh semua pihak terkait. “Ini harus menjadi perhatian bersama, tidak bisa hanya mengandalkan Polhut dan KSDA,” kata JM—akrab Bupati disapa.

Jika benar informasi tersebut, JM menduga kuat pelakunya adalah masyarakat setempat. Padahal ketika hutan itu rusak di tengah sumber mata air yang terbatas, sudah pasti masyarakat di wilayah itu yang akan rugi. Seharusnya mereka dapat menjaga kelestarian hutan itu karena dampaknya tidak hanya dirasakan saat ini namun di masa akan datang termasuk korbannya adalah anak dan cucu mereka. Apalagi hutan di Pulau Moyo adalah kawasan konservasi yang wajib dijaga. “Harus segera disikapi,” serunya.

Baca Juga  Penemuan Mayat di Ladang Jagung Temui Titik Terang

Untuk bertindak, lanjut JM, tidak hanya menyasar para pelaku illegal logging, tapi yang paling penting upaya pelestarian hutan dengan melibatkan masyarakat di sana. “Di samping ada program pelestarian hutan, masyarakat setempat harus diberdayakan melalui program yang dapat menghambat mereka untuk melakukan aksi illegal logging,” ujarnya, seraya mendesak pihak terkait untuk mengintensifkan penyuluhan dalam membangkitkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan. (*)  Baca juga di Gaung NTB

iklan bapenda