Bupati Sumbawa: UTS Telah Mencatat Sejarah

oleh -1 views
bankntb

Sumbawa Besar, SR (18/10)

Boston UTSBupati Sumbawa Drs H Jamaluddin Malik mengaku kagum dengan prestasi yang ditorehkan mahasiswa Fakultas Biotekhnologi (FTB) Universitas Tekhnologi Sumbawa (UTS) yang akan mewakili Indonesia mengikuti kompetisi dunia di Amerika Serikat, 27 Oktober—5 November 2014. Pujian ini disampaikan Bupati saat menerima kunjungan silaturahim mahasiswa FTB  tersebut di ruang kerjanya, Jumat (17/10). Dalam kesempatan itu Bupati memberikan bantuan sebagai bentuk apresiasi kepada mahasiswa tersebut yang saat itu didampingi Julmansyah S.Hut—salah seorang dosen setempat.

amdal

Di hadapan mahasiswa yang merupakan putra local Sumbawa ini, JM—akrab Bupati disapa mengatakan, keberangkatan mahasiswa FTB UTS ke Amerika bukan hanya kebanggaan bagi UTS, namun juga masyarakat dan pemerintah daerah Sumbawa. Hal ini membuktikan bahwa sebuah tempat tidak menjadi faktor penentu seseorang bisa berhasil. Dimanapun berada ketika mau bekerja dan belajar dengan ikhlas, maka keberhasilan akan diraih. Sebagai buktinya, UTS yang berada di hutan belantara kaki Bukit Olat Maras, Batu Alang, Kecamatan Moyo Hulu, ternyata mampu menyaingi universitas ternama di kota-kota besar, dan berhasil melambungkan prestasinya di level internasional.Boston UTS 1

JM menyatakan tidak perlu menjadi yang terbaik, bisa ke Amerika saja dengan membawa nama Bangsa Indonesia dan daerah Sumbawa NTB itu merupakan prestasi yang sangat luar biasa. “Ini kesempatan langka, dan UTS telah membuat pintu sendiri untuk mencapai harapan semua kita. Ketika sudah seperti ini tidak perlu lagi mencari pekerjaan, karena pekerjaan lah yang akan mencari kita. Ciptakan peluang, agar peluang itu dapat bermanfaat bagi masyarakat. Dan pembangunan dikatakan berhasil ketika manfaatnya dirasakan langsung oleh orang banyak,” imbuhnya.

Baca Juga  SMPN 2 Juara 2 dan SMPN 1 Sumbawa Juara 3 FLS2N Provinsi 

Menyinggung hasil riset mahasiswa FTB UTS yang mampu menciptakan robot bakteri yang dijadikan alat sensor untuk mengukur kadar glukosa (gula) dalam madu Sumbawa, JM menyatakan sebuah capaian yang besar. Namun ia berharap UTS tidak hanya menciptakan alat sensor kadar gula madu, tapi juga dapat mendeteksi kekhasan madu Sumbawa termasuk rasa yang dihasilkan dari beragam tanaman dan bunga. Hal ini dianggap penting karena banyak madu luar daerah ketika dilepas di pasaran memakai label madu Sumbawa yang secara tidak langsung telah merugikan daerah ini. Ke depan Pemda akan memberikan perhatiannya terhadap riset semacam ini, dan berharap apa yang menjadi program pemerintah daerah mendatang dapat dikerjasamakan dengan UTS.

Di bagian lain JM memberikan motivasi kepada mahasiswa UTS untuk tidak menjadi kekurangan sebagai hambatan dalam mencapai prestasi, melainkan tantangan. Sebab seseorang menjadi hebat karena diasah oleh berbagai tantangan. “Orang yang jatuh pasti sudah pernah memanjat, dan orang yang pernah gagal pasti sudah pernah melangkah dan mencoba,” ucapnya, seraya menyatakan bahwa membuat sejarah masa lalu penting, namun jauh lebih penting ketika mampu membuat sejarah saat ini dan masa mendatang. “UTS sudah mencatat sejarah ini,” pungkasnya.

Sebelumnya Fahmi Dwilaksono—ketua rombongan Tim Sumbawagen di hadapan Bupati menjelaskan, mereka akan mengikuti kompetisi dunia, iGEM (International Genetically Engineered Machined) ke-10 di Massachusetts Institut of Technology (MIT) Boston, Amerika Serikat, 27 Oktober—5 November 2014 mendatang. Mereka akan bersaing dengan 235 peserta dari berbagai negara di dunia termasuk tuan rumah Amerika Serikat. Selama mengikuti kompetisi, mahasiswa tersebut didampingi Dekan FTB Dr Arif Witarto P.hD bersama dua orang dosen Sausan Nafisah dan Maya Fitriana, serta Zainuddin salah seorang wartawan dari Gaung NTB.

Baca Juga  Prodi TEP FKIP UNSA Latih Kepala Sekolah dan Guru SLBN

Mereka akan mempresentasikan hasil inovasinya dalam pengukuran kadar glukosa dan fruktosa (gula madu) Sumbawa. Inovasi teknologi ini merupakan hasil rekayasa genetika bakteri E.coli yang telah disisipkan gen red fluoresence  warna merah yang dikombinasikan dengan software mobile programming pada smartphone (Econey soft) atau lebih tepatnya akan dijadikan perangkat lunak handphone.

Alat ciptaan FTB UTS ini diharapkan dapat bermanfaat bagi petani madu. Sebab selama ini untuk mengukur glukosa (kadar gula) dalam madu Sumbawa, petani harus mengirim sampel ke laboratorium paling dekat di Mataram. Selain alot, petani juga harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Dengan adanya alat sensor hasil rekayasa genetika bakteri E.coli ini, petani hanya dengan menggunakan handphone dapat mengukur kadar gula madu Sumbawa.

Fahmi yang didampingi 7 rekannya, Adelia Elviantari, Cindy Suci Ananda, Indah Nurulita, Mochammad Isro Alfajri, Muhammad Al Azhar, Rian Adha Ardinata, dan Yulianti ini  mengaku sudah mensosialisasikan hasil temuan yang akan ditampilkan pada kompetisi di Amerika ini kepada sejumlah kelompok petani madu di Batu Dulang Kecamatan Batu Lanteh dan Gapit Kecamatan Empang. Para petani merespon proyek Econey (E.coni Honey) ini secara positif dan berharap agar alat tersebut segera direalisasikan. (*) Baca juga di Gaung NTB

iklan bapenda