Porsi Pengadaan Ternak Dikurangi

oleh -1 views
bankntb

Sumbawa Besar, SR (25/09)

Ir Syafruddin Nur, Kadis DPKH Sumbawa
Ir Syafruddin Nur, Kadis DPKH Sumbawa

Gagalnya pengadaan ternak Tahun 2014 di Kabupaten Sumbawa diupayakan untuk tidak terulang di tahun anggaran mendatang. Tentunya Dinas Peternakan Sumbawa selaku leading sector sangat menginginkan agar pengadaan ternak itu sukses, salah satunya mengevaluasi aspirasi yang disuarakan masyarakat melalui anggota DPRD Sumbawa. “Jika tahun depan masih ada aspirasi, sebaiknya disaring dan tidak seluruhnya diporsikan untuk pengadaan ternak yang terlalu besar,” kata Kadisnak Sumbawa, Ir Syafruddin Nur yang ditemui usai mengikuti Rapat Koordinasi PPID di Wisma Daerah, Selasa (23/9).

amdal

Misalnya dari 2140 ekor pengadaan ternak Tahun 2014 lalu, dapat dikurangi menjadi hanya 1000 ekor pada Tahun 2015 dengan spesifikasi ternak yang diatur misalnya 102, 105, atau 110, sehingga setiap spek dapat terdistribusikan secara merata. Namun demikian ungkap Syaf—akrab dia disapa, semua tergantung dari keputusan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) baik eksekutif maupun legislative. “Selaku dinas tekhnis kami tidak bisa memutuskannya sendiri, ini kewenangan eksekutif dan legislative,” ujarnya.

Ketika DPRD tetap mengusulkan seperti pengadaan Tahun 2014, pihaknya akan tetap mengusulkannya sesuai mekanisme, mulai dari membuka penawaran hingga mengajukan dokumen untuk dilakukan lelang terbuka. “Kalau rekanan masih tetap berminat, kita tidak bisa berbuat banyak dan akan mengembalikan anggarannya ke kas daerah,” ucapnya.

Sebenarnya diakui Syaf, gagalnya pengadaan ternak Tahun 2014 bukan karena ketersediaan ataupun harga ternak sesuai pagu anggaran. Kondisi ini terjadi karena sejumlah rekanan tidak berminat. Selain tidak memiliki cukup modal karena diwajibkan memberikan uang jaminan yang mencapai Rp 500 juta. Ketika mereka tidak tuntas melaksanakan pengadaan ternak sesuai dengan waktu yang ditentukan, secara otomatis uang jaminan tersebut hangus. “Mungkin inilah yang ditakutkan,” duganya.

Baca Juga  Kawasan Hutan Lantung Jadi Lahan Pengganti Pembangunan Pelabuhan Teluk Santong

Untuk ketersediaan ternak, berdasarkan hasil registrasi ternak mencapai sekitar 60—70 ribu ekor ternak, sementara pengadaan hanya 2.140 ekor. Persoalannya apakah pemilik ternak mau menjualnya atau tidak. Tapi Syaf merasa yakin, pemilik ternak pasti menjual karena selama ini mereka juga tetap mengirim ternaknya keluar daerah. Kemudian soal harga, dinilai Syaf sangat kompetitif karena pemerintah telah menetapkan pagu dana per ekor Rp 5 juta. Sedangkan harga ternak di lapangan (harga pasar) sesuai spesifikasi yang ditetapkan berkisar Rp 3,4 juta—Rp 3,5 juta, sehingga masih ada selisih (keuntungan) yang luar biasa. “Saya kira rekanan belum siap modal, dan takut kehilangan uang jaminan. Padahal ketika dia bersungguh-sungguh, pelaksanaan kegiatan itu akan tuntas tepat waktu,” demikian Syafruddin. (*) Baca juga di Gaung NTB

iklan bapenda