Doktor Zul Diminta Back-up Penegerian UNSA

oleh -0 views
bankntb

Sumbawa Besar, SR (09/09)

Berbagai upaya telah dilakukan Civitas Akademika Universitas Samawa (UNSA) untuk menegerikan perguruan tinggi tertua di Pulau Sumbawa. Sejak tercetus dua tahun lalu, belum ada tanda-tanda penegerian UNSA akan direspon pemerintah pusat dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas).

amdal

Karenanya Rektor UNSA Prof Dr Syaifuddin Iskandar M.Pd menyerahkan tanggungjawab untuk memperjuangkan penegerian tersebut kepada Dr H Zulkieflimansyah SE M.Sc yang notabene Rektor Universitas Tekhnologi Sumbawa (UTS). Permintaan itu disampaikan langsung Rektor UNSA saat menyambut kehadiran Doktor Zul—sapaan akrab Rektor UTS yang hadir dalam kapasitasnya sebagai Pimpinan MPR RI bersama rombongan dalam rangka MPR Goes To Campus di kampus UNSA, Senin (8/9).

Selama ini diakuinya dukungan Pemda Sumbawa dan Pemprov NTB dalam upaya penegerian UNSA luar biasa. Namun yang pihaknya merasa kesulitan menembus pusat. Ia menilai Doktor Zul memiliki kemampuan untuk meretas persoalan di pusat ini. Sudah banyak bukti kiprah dari tokoh kelahiran Sumbawa ini dalam memperjuangkan kepentingan daerahnya di level nasional bahkan internasional. Bahkan sejumlah pejabat penting seperti menteri dan Wakil Presiden tidak segan untuk mengunjungi Sumbawa yang diiringi dengan kucuran bantuan untuk pembangunan di berbagai bidang, tidak lain atas undangan Doktor Zul. “Konstribusinya sangat luar biasa, karena beliau ingin Sumbawa setara bahkan lebih maju dari daerah lainnya,” cetus Prof Ude—akrab Rektor gaek ini disapa.

Namun untuk bisa setara dengan daerah lain, lanjut Prof Ude, salah satunya Doktor Zul harus mewujudkan penegerian UNSA. Dengan digelarnya MPR Goes To Campus, menjadi salah satu awal yang bagi Doktor Zul dalam memberikan perhatian terhadap kemajuan UNSA. “Penegerian UNSA adalah tanggung jawab bersama,” tandasnya.

Baca Juga  Atlit Boxer Sumbawa Raih Perunggu di Asia Tenggara

Menanggapi hal itu, Doktor Zul menyatakan bahwa persoalan penegerian UNSA adalah masalah bersama yang tidak boleh diabaikan. Jika hal itu diabaikan maka akan menjadi masalah yang besar yang menyebabkan banyak pihak yang menjadi korban. Ia menyitir sebuah kisah seekor tikus yang hidup tenang di rumah seorang petani. Setiap hari tikus ini berkeliaran membersihkan remah-remah dan sudah merasa menjadi keluarga petani. Suatu saat tikus ini terkejut melihat petani pulang dari sawahnya membawa bungkusan besar. Ketika dibuka ternyata berisi perangkap tikus. Melihat perangkap itu tikus panik karena akan menjadi akhir dari hidupnya. Tikus menjadi sedih sebab selama ini merasa dekat dan menjadi bagian dari keluarga, tapi petani ini tega membawa perangkap yang bisa mengakhiri hidupnya di dunia. Akhirnya dia menemui beberapa ternak peliharaan petani seperti ayam, kambing dan sapi untuk menceritakan kegalauan hatinya. Satu per satu yang didatangi ini memberikan jawaban yang mengecewakan. Menurut ayam, kambing dan sapi kalau masalah perangkap tikus bukan urusan mereka tapi urusan tikus. Tidak ada hubungannya perangkap tikus dengan ayam, kambing dan sapi. Dengan hati terluka tikus pulang ke sarangnya. Malam tiba, muncul seekor ular berbisa masuk ke rumah sang petani lalu terjebak dalam perangkap tikus yang memang sudah terpasang. Saat istri petani ini bangun subuh lalu mengecek perangkap tikus, ular berbisa tersebut mematok kakinya. Akhirnya istri petani ini terkapar. Petani pun panik karena melihat badan istrinya kaku, wajahnya pucat dan nafsu makannya berkurang. Petani berpikir, kalau orang lagi lesu, dan tatapannya nanar, harus diberikan asupan gizi. Petani pun memutuskan untuk membuat sop ayam yang kemudian menyembelih ayam. Ternyata kondisi istrinya semakin parah, dan keluarga dekat pun mulai berdatangan. Karena untuk menjamu kehadiran keluarga besarnya, petani merasa ayam tidak cukup lalu memutuskan menyembelih kambing. Rupanya takdir menentukan lain, istri petani meninggal dunia. Satu kampung orang datang melayat, dan untuk menyambutnya terpaksa petani memotong sapinya. “Jadi karena tidak menjadikan masalah sang tikus menjadi bagian dari masalahnya, akibatnya ayam, kambing dan sapi menjadi korban,” kata Doktor Zul beri’tibar.

Baca Juga  Hobby Unik Menjadi Tradisi yang Bernilai Seni

Doktor Zul memuji kiprap Prof Ude yang dinilainya sebagai orang yang jauh menembus jamannya. Ketika dia masih duduk di bangku SD, Prof Ude sudah mendirikan STKIP—sebagai langkah membangun peradaban di Kabupaten Sumbawa. “Sebelum orang lain memikirkan pendidikan tinggi, Rektor UNSA ini sudah melakukannya,” ujar Doktor Zul.

“Dengan cita-cita Prof Ude yang tinggi inilah telah mampu meretas sebuah jalan besar sehingga kita bisa hadir di tempat sekarang ini. Karenanya figur seperti Prof Ude ini harus diberikan apresiasi,” tambah Doktor Zul.

Mengenai penegerian UNSA, Doktor Zul memberikan jaminan dalam tiga bulan bisa terealisasi di tengah moratorium yang diberlakukan pemerintah. Sebab pemerintah memberikan solusi UNSA  bisa menjadi negeri asalkan berada di bawah kendali UNRAM. “Apa jajaran UNSA mau seperti ini. Karena saya rasa berada di bawah kendali universitas lain secara psikologis dan structural menjadi masalah,” pungkasnya. (*) Baca juga di Gaung NTB

iklan bapenda