Penolakan Relokasi SMA 1 Sumbawa Terus Bergulir

oleh -0 views
Ruangan terbatas, pasien dirawat di lorong
bankntb

Sumbawa Besar, SR (11/08)

Muhammad Jabir SH
Muhammad Jabir SH

Pro-Kontra rencana perluasan areal RSUD ke SMA Negeri 1 Sumbawa terus mengalir. Kali ini, aroma penolakan datang dari para perwakilan ikatan alumni SMA 1 Sumbawa. Mereka menilai, kebijakan Pemda Sumbawa tergesa-gesa dan terlalu spekulatif.

amdal

Salah seorang perwakilan Alumni, Muhammad Jabir SH, mengatakan rencana perluasan RSUD dengan mengorbankan sekolah seharusnya melalui pertimbangan matang dan mesti ditinjau dari berbagai aspek.

Menurut mantan Wakil Bupati Sumbawa periode 2005-2010 ini, jika ditinjau dari aspek Yuridis, perluasan RSUD bertentangan dengan Perda Tata Ruang No. 10 Tahun 2012, yang mengatur tentang perencanaan Tata Ruang Kabupaten Sumbawa. Arahan Perda yang ditetapkan pada tanggal 5 Oktober 2012 ini, menegaskan untuk sarana dan prasarana kesehatan maupun pendidikan diarahkan ke luar. “Dilihat dari situ saja sudah salah,” ujarnya.

Bila ditinjau dari aspek anggaran sambungnya, perluasan RSUD dengan merelokasi SMA 1 ke Pragas sebagai bentuk pemborosan anggaran. Seperti diketahui Banggar Dewan telah menyetujui anggaran pembangunan SMA 1 sebesar Rp 10 miliar ditambah pembuatan DED Rp 1 miliar. Sementara untuk perluasan RSUD dianggarkan Rp 3,5 miliar pada tahun 2015, ditambah review DED Rp 400 juta dan UKL/UPL Rp 40 juta. Selanjutnya, alokasi anggaran relokasi stadion Pragas ke tempat yang baru menghabiskan anggaran sebesar Rp 4 miliar untuk lokasi minimal 10 Ha. Selain luasnya yang tidak ideal, lingkungan RSUD juga tidak refresentatif. “Rumah sakit yang ideal memiliki luas lahan 2 sampai 3 hektar. Luas RSUD saat ini hanya 90 are. Kemudian SMA 1 Sumbawa luasnya 1 Hektar 5 are dan kalau digabungkan jelas sangat tidak ideal. Jangan sampai setelah dibangun nanti dirobohkan lagi. Ingat Direktur Bina Upaya Departemen Kesehatan RI menargetkan, pada tahun 2020 mendatang semua RSUD dirubah menjadi Grand Hospital,” tegas Jabir.

Baca Juga  Layani Masyarakat di Tengah Covid-19, KPU KSB Terapkan Shift Kerja

Solusi terbaik menurut Jabir, RSUD seharusnya dibangun ditempat lain mengingat pemda masih memiliki lahan kosong yang tidak perlu dibebaskan lagi. Sementara SMA 1 Sumbawa dan Stadion Pragas tetap berada di tempatnya semula. Kalau kekhawatirannya akan membebankan APBD, hal ini masih bisa diskenariokan dengan cara pemda menyiapkan lahan, masalah bantuan anggaran bisa meminta support dari APBN. “Kenapa cara ini tidak ditempuh ketimbang harus menghabiskan anggaran sampai puluhan miliar. Untuk dana pendampingnya bisa disiasati lewat APBD,” sarannya.

“Saya bukan menolak relokasi, tapi saya mendukung pembangunan RSUD yang representatif. Kalau mau bangun rumah sakit jangan setengah-setengah. Mari kita buat di tempat lain, RSUD yang sekarangkan bisa dijadikan sebagai mini museum untuk memamerkan produk terbaik Sumbawa seperti Madu Sumbawa. Kan lebih bagus lagi,” timpalnya. (*)

iklan bapenda