Bakal Ada Tersangka Kasus Sonokling Lenangguar

oleh -2 views
bankntb

Sumbawa Besar, SR (25/07)

Kapolres Sumbawa, AKBP Karsiman SIK MM
Kapolres Sumbawa, AKBP Karsiman SIK MM

Kapolres Sumbawa AKBP Karsiman SIK MM menegaskan terus mengusut kasus tiga truk kayu sonokling asal Lenangguar yang diamankan beberapa hari. Saat ini penyidik Reserse dan Kriminal (Reskrim) Polres Sumbawa telah memeriksa 8 orang saksi di antaranya sopir truk, pemilik kayu, pembeli, dan kades yang menerbitkan dokumen kayu. Hasil penyidikan sementara, ungkap Kapolres, ditemukan adanya ketidak-singkronan tandatangan di antara beberapa dokumen kayu. Meski demikian sejauh ini penyidik belum menetapkan adanya tersangka, sebab masih berkoordinasi dengan Dinas Kehutanan untuk melakukan lacak balak ke lokasi penebangan. “Ketika hasil penyidikan yang didukung lacak balak mengarah ke tindak pidana illegal logging, maka akan ditetapkan siapa tersangkanya. Siapapun yang terlibat kami tindak tegas,” tandas Kapolres.

amdal

Seperti diberitakan ratusan batang kayu sonokling yang diangkut menggunakan tiga unit truk berhasil diamankan jajaran Polres Sumbawa, Selasa  (22/7) dinihari sekitar pukul 04.00 Wita. Sejumlah kayu ‘termahal’ ini diamankan di rumah salah seorang warga Kecamatan Moyo Hulu yang kemudian digiring ke Polres Sumbawa. Hal tersebut dilakukan karena sejauh ini pemilik kayu belum dapat menunjukkan surat-surat terkait penebangan, pengangkutan dan penimbunan kayu.

Pengangkutan kayu itu diketahui polisi setelah mendapat informasi dari masyarakat yang ditindaklanjuti dengan mendatangi TKP. Ketika diturunkan di rumah salah seorang warga langsung dicegat. Karena belum dapat menunjukan kelengkapan dokumen, kayu tersebut langsung dievakuasi dan diamankan untuk dijadikan barang bukti.

Baca Juga  Polsek Plampang Ringkus Kawanan Curanmor

Penebangan pohon jenis Sonokling secara besar-besaran di wilayah Hutan Lindung Gunung Setia dan Kuang Jeringo, Kecamatan Lenangguar. Aktivitas ini telah diketahui pihak Dinas Kehutanan Sumbawa yang sempat ditindaklanjuti.

Namun saat berada di lokasi tidak menemukan para pelaku, hanya terlihat bekas-bekas tebangan. Bahkan di lokasi juga ditemukan belasan pohon yang sudah diolah menjadi balok. Rupanya para pelaku selain menebang menggunakan chainsaw, juga melakukan pengolahan di tempat menggunakan sarkel. Kondisi kawasan itu memang cukup memprihatinkan, namun kehutanan tidak dapat berbuat banyak.

Pasalnya, pesatnya kemajuan tekhnologi komunikasi menjadi salah satu faktor yang membuat petugas kerap kecolongan. Bahkan para pelaku memiliki mata-mata dan informan yang kerap memberikan informasi ketika ada petugas yang terjun ke lokasi untuk melakukan penyergapan. Maraknya penebangan pohon sonokling belakangan ini tidak dapat dipungkiri, mengingat harganya melambung dan banyak dibutuhkan. Namun apapun alasannya, aktivitas di dalam kawasan sangat dilarang. Bahkan ancaman UU No. 18 Tahun 2012, lebih tegas dibandingkan UU No. 41 Tahun 1999 tentang kehutanan. Dalam UU No. 18 Tahun 2012 tidak hanya menjerat pelaku penebangan pohon di kawasan hutan lindung, membiarkan adanya aksi tersebut saja dapat ditindak secara pidana. (*)

Dapat juga dibaca di Harian Umum Gaung NTB Edisi 25 Juli 2014 “Jangan Gentar Berkata Benar”  Koran Terbesar dan Tersebar di Pulau Sumbawa. 

 

Baca Juga  Tersangka Penyegelan Kantor Desa Lito Mendekam di Sel Tahanan

 

 

iklan bapenda