Penjual Balon Gas Terbakar

oleh -9 views
bankntb

Sumbawa Besar, SR (23/07)

Tabung Gas PemilikLedakan besar mengejutkan para pedagang di Komplek Pusat Pertokoan Samawa dan ‘pasar malam’ musiman yang berlokasi di Jalan Multatuli tepatnya belakang Bank NTB Sumbawa, Selasa (22/7) sekitar pukul 10.00 Wita. Para pedagang dan warga sekitar berhamburan setelah melihat asap tebal membumbung tinggi dan api membakar dagangan penjual balon gas. Bahkan dua orang penjual balon tersebut terpental ke belakang, rambut kepala dan alis matanya hangus terbakar.

amdal

Ternyata ledakan itu berasal dari tabung gas milik penjual balon gas tersebut. Warga pun berusaha memadamkan api yang menjalar ke kios CD (cassette disk) yang kebetulan pemiliknya sedang mudik. Demikian karyawan Bank NTB yang terlihat sangat panik ikut memadamkan api menggunakan dua tabung pemadam. Situasi pun terkendali, aparat kepolisian dan TNI yang terjun ke TKP langsung melokalisir lokasi sekaligus mengatur lalulintas yang sudah mulai macet karena orang sudah kian menyemut.

Priyadi didampingi Ridwan—pedagang balon asal Cakra Mataram ini, mengaku baru seminggu membuka dagangannya. Mungkin sudah apes, ketika hendak membuka pembuka tabung, tanpa diduga tekanan hawa panas dari dalam tabung menyeruak diikuti dengan semburan api dan suara ledakan yang cukup hebat. Hentakan ledakan ini membuka Priyadi dan rekannya Ridwan terjungkal. “Kemungkinan ada karet pentilnya yang longgar, saat saya putar pembuka tabung gas dari dalam langsung menyembur keluar,” ujarnya.

Baca Juga  Respon Permohonan Izin, Tim DPMPTSP Setiap Hari Verifikasi Lapangan
Tabung Gas Meledak
Tabung Gas Meledak

Namun dia masih bersyukur sebab api tidak sampai melahap sekujur tubuhnya, terlebih lagi merambat ke bangunan lain yang mengakibatkan terjadi kebakaran besar. “Hanya rambut dan alis mata saya yang hangus,” katanya.

Dengan adanya peristiwa itu, Priyadi mengaku kemungkinan menghentikan sementara usahanya tersebut. Apalagi beberapa pedagang lain yang terusik sudah mulai bersuara meminta agar tidak lagi berjualan, karena dinilai sangat berbahaya. (*)

iklan bapenda