Pembunuh Rebecca Minta Dihukum Ringan

oleh -8 views
terdakwa pembunuh Rebecca Disidang
bankntb

Sumbawa Besar, SR (16/07)

rebeccaDituntut 18 tahun penjara karena dinilai terbukti bersalah secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana pembunuhan berencana terhadap korban Rebecca Helona sebagaimana diatur dalam Pasal 340 KUHP, H Syahabuddin (56) alias Guru Din mengajukan pembelaan. Melalui tim penasehat hukumnya, Sobaruddin SH dkk, terdakwa pada persidangan yang digelar Selasa (15/7) menyampaikan nota pembelaan (pledoi) yang berjudul “Hukum itu Buta Tapi Kebenaran itu Nyata”.

amdal

Di hadapan majelis hakim yang diketuai Reza Tyrama SH beranggotakan hakim Ida Ayu Masyuni SH dan Rini Kartika SH MH, PH Terdakwa mengemukakan penanganan perkara pembunuhan Rebecca Helona harus dilihat dari pendekatan disiplin ilmu sosial yang lainnya, terutama ilmu sosiologi dan psikologi. Hal ini harus digali secara mendalam mengenai kebenaran materiil sehingga perlu menganalisa latar belakang masalahnya. Guru Din (terdakwa ungkap Sobaruddin, dilahirkan dari keluarga baik-baik, taat dan tekun beribadah. Terbukti dengan predikat haji yang disandangnya serta sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil (guru) yang tentunya dalam pekerjaan sehari-hari adalah mendidik dan mengajar orang (anak-anak) untuk menjadi manusia yang baik dan taat serta patuh baik pada orang tua, keluarga, lingkungan serta kepada aturan negara. Profesi yang masih aktif hingga sekarang ini telah dilakukan berpuluh tahun yang lalu. Hanya karena adanya kasus ini sehingga aktivitas terdakwa menjadi terhenti entah untuk jangka waktu yang belum ditentukan. “Perjalanan hidup manusia memang tidak semulus benang sutra tetapi banyak godaan yang datang, seperti halnya dialami terdakwa H Syahabuddin ini. Sebelumnya orang yang baik tekun beribadah, dan bekerja untuk menghidupi istri dan 7 orang anaknya, lalu timbul pertanyaan mengapa terdakwa terjebak melakukan perbuatan seperti yang didakwakan JPU ?,” tanya Sobaruddin SH.

Baca Juga  Terperangkap Konflik Suriah, Tiga TKW Sumbawa Dideportasi

Di bagian lain pledoi itu Sobaruddin juga menyatakan untuk memberikan rumusan tentang fakta dalam persidangan sehingga bisa membuat satu konstruksi hukum yang baik dan benar terhadap kasus yang membelit terdakwa H Syahabuddin. Sebab dari 8 orang saksi yang diajukan tim JPU, tidak satupun yang menerangkan melihat terjadi peristiwa yang menyebabkan meninggalnya Rebecca Helona sehingga keterangan semua saksi yang diajukan hanyalah sebagai bukti awal bahwa pernah terjadinya pembunuhan. Yang perlu menjadi pertimbangan atas keterangan saksi Hj Inin Jariyah S.Pd tukas Sobaruddin, bahwa terdakwa dan korban telah menikah siri pada Tahun 2007 di Spanyol (Desa Sepayung) Plampang. Selain itu Hj Inin mengaku selama menjalin hubungan rumah tangga dengan saksi tidak pernah melakukan perbuatan-perbuatan kekerasan baik kepada dirinya selaku istri sah maupun kepada anak-anaknya. Justru rumah tangganya berjalan aman, ramah dan berlaku baik terhadap keluarganya kendati terdakwa sudah menikah sirih dengan korban yang bertujuan untuk dijadikan istri yang sholehah taat beribadah serta mewujudkan keluarga kecil yang Samawa (Sakinah-Mawaddah-Warahma).

Di bagian lain Sobaruddin menyatakan, terdakwa tidak bermaksud melakukan pembunuhan terhadap korban, karena terdakwa sangat mencintai korban. Namun hal itu terjadi karena korban melontarkan kata-kata yang sangat memancing kepanikan terdakwa. Selain itu korban sempat meninju kepala terdakwa dengan keras sehingga helm yang digunakan terlepas. Sikap korban yang begitu antagonis lanjut Sobar, disikapi terdakwa dengan berpura-pura menakut-nakuti korban. Tapi korban berusaha merebut parang yang terselip di pinggang terdakwa dan dengan sigap mempertahankan parang dimaksud.

Baca Juga  Ketua Bhayangkari Sumbawa Kunker Perdana di Plampang

Terdakwa pun mencabut parang hanya untuk menakuti korban dengan cara mengarahkan parang tersebut ke arah pundak. Tapi korban dengan cepat menepis tangan terdakwa secara keras sehingga parang itu terpental ke arah kepala korban bagian belakang. Seketika korban terluka dan terjatuh hingga akhirnya meninggal dunia. Dengan latar belakang dan fakta yang terungkap di persidangan itu, maka unsur dengan rencana membunuh korban sebagaimana didakwakan/tuntutan JPU tidak dapat dibuktikan sehingga dakwaan primair melanggar pasal 340 KUHP tidak terbukti secara sah menurut hokum. Yang tepat adalah pasal 351 (3) KUHP tentang penganiayaan yang mengakibatkan matinya orang. Untuk itu terdakwa dihukum dengan seringan-ringannya. Akhirnya hakim menunda sidang hingga Rabu (23/7) mendatang untuk memberikan kesempatan kepada tim JPU mengajukan tanggapan (Duplik) atas pledoi pembelaan PH terdakwa.

Sebelumnya tim JPU Kejari Sumbawa Muhammad Isa Ansori SH dan Heni Yunita Fitriani SH menuntut terdakwa selama 18 tahun penjara. (*)

iklan bapenda