DPT Pilpres Masih Bermasalah

oleh -0 views
bankntb

Sumbawa Besar, SR (10/07)

Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilihan Presiden (Pilpres) yang ditetapkan KPU Kabupaten Sumbawa ternyata masih bermasalah. Hal ini dibuktikan dengan masih adanya data pemilih dalam DPT yang sudah meninggal dunia, dan beberapa di antaranya memiliki nama yang double. Seperti yang tercatat di TPS 2 Kelurahan Bugis. Di TPS ini masih tercatat sedikitnya empat pemilih yang sudah beberapa tahun lalu meninggal dunia, di antaranya Aloys Patrick, Indrawati dan Rosmini. Nama-nama ini sudah meninggal dunia sejak Tahun 2009 hingga 2012 lalu. Hal ini diakui Ketua KPPS, Zakariah Hamid S.Pd didampingi anggotanya, Afroditus. Diakuinya beberapa warganya yang sudah meninggal dunia ini sempat juga tercatat pada Pileg lalu dan sudah diusulkan untuk direvisi, namun kembali muncul lagi. Selain itu tambah Afroditus yang juga Ketua RT 01 RW 02 Kelurahan Bugis, ada beberapa warganya yang memiliki nama double yaitu atas nama Supartini dan L Sundari. Doubelnya nama ini, kemungkinan disebabkan karena keduanya sudah memiliki kartu keluarga (KK) menyatu dengan anak-anaknya. Mengingat anak-anak telah berkeluarga, akhirnya KK mereka terpisah. “Saya perkirakan ini menyebabnya,” kata Ditus—akrab ketua RT low profil ini.

amdal

Ini masih yang meninggal dunia dan double nama, belum termasuk yang pindah tempat tinggal tapi masih tercatat sebagai pemilih di TPS setempat.

Hal senada dikatakan ketua RT lainnya yang enggan menyebutkan namanya. Mereka menyatakan kasus ini akan terus terulang sepanjang dalam melakukan pendataan tidak melibatkan ketua RT. “Harusnya KPU melibatkan ketua RT, sebab yang mengetahui kondisi riel warganya adalah ketua RT nya,” pintanya.

Baca Juga  Bertambah 127 M, APBD Sumbawa 2015 Kini 1,468 T

Untuk diketahui di TPS 2 Kelurahan Bugis ini tercatat DPT mencapai 413 orang, yang memberikan hak pilihnya 291 orang dan yang tidak datang ke TPS mencapai 122 orang termasuk yang meninggal dunia dan nama double serta yang sudah pindah tempat tinggal, serta sebagian besar enggan mencoblos. Kondisi ini sudah terlihat karena sepinya pemilih yang datang ke TPS, sejak pagi hingga menjelang berakhir waktu pencoblosan. Beberapa kali petugas KPPS mengumumkan melalui pengeras suara di masjid, agar para pemilih menggunakan hak pilihnya. Meski demikian proses berjalan aman dan lancar dengan kemenangan diraih Prabowo—Hatta 174 suara ungul dari Jokowi—Kalla 117 suara. (*)

iklan bapenda