Sonokling di Hutan Lenangguar Habis Dibabat

oleh -2 views
bankntb

Sumbawa Besar, SR (05/07)

Darussalam SAP, Kabid Pengamanan dan Perlindungan Dishut Sbw
Darussalam SAP, Kabid Pengamanan dan Perlindungan Dishut Sbw

Penebangan pohon jenis Sonokling secara besar-besaran di wilayah Hutan Lindung Gunung Setia dan Kuang Jeringo, Kecamatan Lenangguar, ternyata bukan hanya isapan jempol. Sebab penebangan yang terkesan tidak terkendali ini diakui Kadis Kehutanan Kabupaten Sumbawa yang dikonfirmasi melalui Kepala Bidang (Kabid) Pengamanan dan Perlindungan, Darussalam SAP.

Saat ditemui di Polres Sumbawa Kamis (3/7), Gading—akrab Ia disapa, mengakui adanya aktivitas penebangan pohon sonokling di kawasan hutan lindung wilayah Kecamatan Lenangguar. Timnya sudah terjun ke lokasi, namun tidak menemukan para pelaku, hanya terlihat bekas-bekas tebangan. Bahkan di lokasi juga ditemukan belasan pohon yang sudah diolah menjadi balok. Rupanya para pelaku selain menebang menggunakan chainsaw, juga melakukan pengolahan di tempat menggunakan sarkel. Kondisi kawasan itu memang cukup memprihatinkan, namun pihaknya tidak dapat berbuat banyak. “Kami inginnya langsung tertangkap tangan, sebab jika tidak tertangkap tangan akan banyak proses di antaranya melakukan lacak balak,” kata Gading.

Untuk tertangkap tangan, diakui Gading, cukup sulit. Pesatnya kemajuan tekhnologi komunikasi menjadi salah satu faktor yang membuat petugas kerap kecolongan. Bahkan para pelaku memiliki mata-mata dan informan yang kerap memberikan informasi ketika ada petugas yang terjun ke lokasi untuk melakukan penyergapan. “Tidak heran ketika kami ke lokasi hanya mendapati bekas-bekas tebangan, sedangkan pelaku dan barang bukti sudah tidak ada di lokasi,” tukasnya.

Baca Juga  Oknum Guru Dilaporkan Diduga Cabuli Murid

Maraknya penebangan pohon sonokling belakangan ini tidak dapat dipungkiri, mengingat harganya melambung dan banyak dibutuhkan. Namun apapun alasannya, aktivitas di dalam kawasan sangat dilarang. Bahkan ancaman UU No. 18 Tahun 2012, lebih tegas dibandingkan UU No. 41 Tahun 1999 tentang kehutanan. Dalam UU No. 18 Tahun 2012 tidak hanya menjerat pelaku penebangan pohon di kawasan hutan lindung, membiarkan adanya aksi tersebut saja dapat ditindak secara pidana.

Untuk meminimalisir aksi illegal logging tersebut, Dinas Kehutanan terus melakukan patroli disamping langkah persuasive dengan mengintensifkan penyuluhan kepada masyarakat terutama yang berada di sekitar kawasan untuk ikut berperan dalam menjaga hutan. Pasalnya kerusakan hutan merupakan petaka bagi mereka. Koordinasi pun dilakukan dengan instansi terkait lainnya seperti Polsek, Koramil, camat dan kepala desa.

Selain itu pihaknya juga akan menjalin kerjasama dengan Satpol PP selaku aparat penegak Perda untuk melakukan penertiban terhadap kepemilikan sarkel. Hal ini dilakukan untuk menyiasati kurangnya sumber daya yang ada dan terbatasnya jangkauan petugas kehutanan terhadap luasnya kawasan yang harus dilindungi. “Apapun itu kami terus berupaya untuk melakukan langkah-langkah strategis agar kerusakan hutan tidak semakin meluas akibat ulah oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab,” tandasnya. (*)

iklan bapenda