Penjualan Scrap Seret Nama Petinggi Newmont

oleh -12 views
bankntb

H Jarot: Tak Ada Surat Newmont Tunjuk Pemenang

Sumbawa Barat, SR (01/07)

amdal
Ir H Syarafuddin Djarot
Ir H Syarafuddin Djarot

Masalah jual beli scrap (limbah) PT Newmont belakangan ini kembali menghangat. Pasalnya, mereka yang diduga kuat terlibat dalam skandal tersebut berasal dari para oknum pejabat di internal PT Newmont.

Disinyalir limbah berharga tersebut dijual kepada salahsatu perusahaan local yakni PT Janur Panca Putri, tanpa proses tender. Modusnya, salah seorang pejabat perusahaan, Kris Sukardi, General Supervisor Newmont dengan Id-Card NB 3775 mengeluarkan surat resmi berkop Newmont yang isinya menunjuk PT Janur Panca Putri sebagai pemenang pembeli sedikitnya 7.500 ton pipa HDPE dan 8000 ton karet Konveyor.

Surat bernomor WW/02/BH21142er, dikeluarkan tertanggal 28 Maret 2014 yang ditandatangan Kris Kardi dan stempel Newmont. ‘’Surat itu saya buat karena persetujuan mereka, pak Jarot dan Rahmat Makasau. Saya bahkan telah koordinasikan dan meminta persetujuan masalah pembayaran uang muka Pipa HDPE langsung ke rumah pak H Jarot di Town Site beberapa waktu lalu bersama pak Saleh,’’ucap Kris Kardi, kepada wartawan, belum lama ini.

Rahmat Makasau
Rahmat Makasau

Kris Sukardi pun mengakui bahwa telah mendatangani kwitansi pembayaran uang muka pipa HDPE tersebut dalam dua kwitansi. Pertama, kwitansi tertanggal 11 Maret 2014 dengan nilai Rp 100 juta. Disusul kembali kwitansi kedua tertanggal 5 April 2014 dengan nilai Rp 55 juta. ‘’Sayakan hanya minta bantuan menghadapi kampanye. Selama ini saya bekerja di Newmont, wajar saya minta bantuan. Nah, atas saran dan dukungan pak Jarot saya diberi kesempatan menjual pipa HDPE 7500 ton. Saya cari pembeli dan minta tolong sama pak Saleh,’’ ujarnya polos.

Baca Juga  Dien Syamsuddin: Kebijakan Menteri Susi Harus Didukung

Belakangan, penunjukkan pembeli pipa ini tidak jelas. M Saleh, Komisaris PT Janur Panca Putri mengatakan, pembayaran uang muka pembelian pipa HDPE itu diberikannnya secara cash dalam dua kali pemberian sesuai isi kwitansi. Pemberian itu dilakukan karena pertimbangan bisnis. ‘’Saya berani kasih lantaran Kris Kardi telah mengeluarkan surat penunjukkan resmi. Kedua, saya dan Kris telah bertemu dengan H Syarifuddin Djarot untuk meminta persetujuan soal ini di rumahnya. H Jarot menyetujui dan siap mengatur pemenangan sesuai isi surat itu kepada saya. Demikian juga dengan Pak Rahmat Makasau, kami juga sudah bertemu di Jakarta. Beliaupun sudah ACC,’’ bebernya.

Tentu saja M Saleh menjadi sangat keberatan, sebab surat penunjukkan dan kwitansi uang muka pembelian pipa tidak diakui oleh H Jarot. Bahkan pejabat Newmont itu membantah seluruh isi surat dan pertemuan yang telah dilakukan.

Untuk menjawab tudingan tersebut, Manager External Newmont, H Syarifuddin Djarot membantah keras keterlibatannya dalam skandal bisnis jual beli limbah scrap ini. Menurut  Jarot, tidak pernah ada surat dari management Newmont yang menunjuk pemenang pembelian limbah tanpa tender. Ia juga membantah persetujuan perihal pembelian pipa itu oleh Rahkmat Makasau, sebagai Senior Manager External Newmont. ‘’Tidak ada surat Newmont menunjuk pemenang pipa itu. Itu tidak dibuat management Newmont, tapi dibuat pribadi orang lain. Masalah pembayaran uang muka itu tidak ada kaitannya dengan Newmont. Itu urusan pribadi Kris Sukardi. Dan Kris telah saya tanya dan mengaku tidak pernah membuat surat seperti itu atau menandatangani kwitansi itu,’’ bantah H Jarot.

Baca Juga  Kemenkeu Tunjuk SMK Al Kahfi Pusat Sosialisasi Dana Desa

Menurutnya, masalah tender scrap harus melalui prosedur yang benar atau proses lelang yang terbuka. Yang ia ketahui, Kris Kardi hanya melakukan pinjaman secara pribadi dengan M Saleh, tanpa ada embel-embel scrap Newmont. ‘’Pokoknya semua ini tidak terkait dengan Newmont dan Pak Rahmat Makasau,’’ pungkasnya. (*)

iklan bapenda