Lahan Trans Brang Lamar Masih Bermasalah

oleh -0 views
bankntb

SumbawaBesar, SR (16/06)

Koordinator Desa (Korades) UPT Brang Lamar, Sanapiah mengatakan lahan pertanian yang menjadi hak warga trans Brang Lamar, Desa Emang Lestari, Kecamatan Lunyuk, masih bermasalah. Sebab sejak penempatan pada 30 November 2013 lalu, sebanyak 100 KK warga trans hingga kini belum mendapatkan lahan pertanian tersebut. “Sudah 9 bulan menempati lokasi trans tapi belum dapat bagian lahan untuk pertanian karena masih bermasalah dengan warga Desa Emang Lestari,” kata Sanapiah.

amdal

Sejauh ini warga trans hanya mendapatkan 25 are dari 1 Ha yang seharusnya diberikan. Dari satu hektar ini 25 are untuk lahan pekarangan, sedangkan 75 arenya lahan usaha (pertanian).

Sebenarnya ungkap Sanapiah, warga bersama konsultan sudah pernah melakukan pengukuran terhadap lahan pertanian yang akan diperuntukan bagi warga, namun selalu dihalangi warga Emang Lestari dan puncaknya terjadi penganiayaan dan pengrusakan terhadap rumah miliknya dan sejumlah warga trans lainnya.

“Kami akan tetap berusaha memperjuangkan untuk mendapatkan lahan itu,” cetusnya.

Sanapiah merasa prihatin dengan kondisi yang dialami wafga trans, yang tidak dapat bertani karena lahannya belum ada.

Sanapiah juga mengaku telah berkoordinasi dengan pihak Disnaker Provinsi sebagai penanggungjawab, namun sepertinya instansi itu lepas tangan.

Karenanya Sanapiah berharap kepada pemerintah daerah agar dapat memfasilitasi penyelesaian masalah lahan tersebut agar warga yang sudah menempati lokasi Brang Lamar dapat segera bercocok tanam.

Baca Juga  Polsek Woja Bantu Kursi Roda dan Beras untuk Penderita Disabilitas

Sementara itu Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Sumbawa, Tri Karyati S.Sos, kemarin, menyampaikan bahwa pihaknya tetap berupaya agar masalah lahan untuk trans Brang Lamar segera dituntaskan.

Namun demikian kata Tri Karyati, untuk menyelesaikan masalah tersebut tidak dapat serta merta tetapi membutuhkan proses. “Perlu ada pendekatan dengan pihak yang bermasalah dalam hal ini warga Emang Lestari. Kami akan mencari solusi yang terbaik, agar para pihak tidak ada yang dirugikan,” tandasnya.

Menurut Tri Karyati, pendekatan refresif dengan melakukan sterilisasi lahan menggunakan aparat dinilainya tidak efektif, karena tetap akan bermasalah di kemudian hari, sehingga pihaknya akan berupaya menggunakan pendekatan kekeluargaan.

Karenanya Tri Karyati meminta warga Trans dapat bersabar, karena pemerintah tetap berupaya untuk menyelesaikannya hingga tuntas. (*)

iklan bapenda