Kapolsek Moyo Hilir Jadi Saksi di Pengadilan

oleh -0 views
Majelis Hakim
bankntb

Sumbawa Besar, SR (30/05)

Setelah Camat Moyo Hilir Abubakar SH memberikan kesaksiannya pada persidangan kasus pemalsuan dokumen dengan terdakwa SR—oknum PNS selaku Mantri Peternakan, giliran Kapolsek Moyo Hilir AKP Abdul Sani.

amdal

Dalam keterangannya pada sidang yang dipimpin ketua majelis hakim Panji Surono SH MH, Rabu (28/5), Kapolsek Abdul Sani mengakui pernah memfasilitasi pertemuan antara terdakwa dan saksi korban sekitar Tahun 2012 lalu atau sebelum kasus ini diproses secara hukum. Pertemuan itu untuk mencari solusi terkait proyek pengadaan sapi bibit, dan beberapa sapi milik saksi korban belum dibayar terdakwa. Namun pertemuan itu menemui jalan buntu, karena SR tetap bersikukuh sapi itu telah dibayar kepada Sanollah selaku korban, dibuktikan dengan kwitansi tanda terima. “Saya tidak mengetahui berada utang yang telah dibayarkan terdakwa kepada Sanullah,” terang Kapolsek.

Demikian dengan tuduhan tandatangan korban di kwitansi pembayaran ternak dipalsukan, Kapolsek mengaku tidak mengetahuinya.

Mediasi ini hanya menghasilkan kesepakatan penyerahan 5 ekor sapi senilai Rp 20 juta milik Sarke dan Din Garang kepada Malawadi untuk membantu pembayaran utang SR yang saat itu disaksikan oleh Sanullah. “Saya hanya berusaha melakukan mediasi dan memfasilitasi pertemuan kedua belah pihak,” jelas Kapolsek.

Untuk diketahui, sidang kasus pemalsuan dokumen ini sudah memeriksa 8 orang saksi, dan telah dianggap cukup oleh majelis hakim. Karenanya pada sidang pekan mendatang hakim memberikan kesempatan kepada JPU mengajukan tuntutan pidananya.

Baca Juga  Grebeg Rumah di Karang Bagu, Polisi Temukan 11 Poket Shabu

kasus pemalsuan kwitansi yang melibatkan SR oknum mantri peternakan Moyo Hilir itu berawal dari adanya kerjasama antara SR dengan Sanollah pada Tahun 2012 lalu. Hal ini menyusul adanya program pengadaan sapi bibit sebanyak 56 ekor senilai Rp 280 juta atau Rp 5 juta per ekor pemerintah melalui Dinas Disnak Sumbawa untuk dua kelompok tani di Moyo Hilir, Sabeta I dan Sabeta II.

Dalam pengadaan sapi bibit ini, SR membeli sapi milik Sanollah Rp 4 juta per ekor. Namun SR membayar sapi itu secara bertahap hingga mencapai puluhan juta. Selebihnya Rp 200 juta belum dibayar. SR yang ditagih enggan membayar dan menyatakan sudah dibayar lunas sesuai dengan sejumlah kwitansi yang diduga dipalsukan tandatangan penerimanya. Din Garang sempat membantu SR membayar utangnya kepada Sanollah dengan menyerahkan 5 ekor sapi seharga Rp 20 juta di hadapan Kapolsek Moyo Hilir AKP Abdul Sani. Namun hingga kini 5 ekor sapi itu belum dikembalikan SR.

Atas perbuatannya, SR sempat ditahan di Polres Sumbawa kemudian ditangguhkan. Setelah polisi mengantongi hasil pemeriksaan laboratorium forensik terhadap belasan kwitansi asli tapi palsu (aspal) itu, sejak 7 April 2014 lalu SR kembali ditahan hingga saat ini dan dijerat pasal 263 KUHP tentang pemalsuan dokumen surat, dengan ancaman pidana maksimal 6 tahun penjara. (*)

iklan bapenda