Dua Kelompok Berpaham Menyimpang “Dibidik” MUI

oleh -1 views
Ilustrasi
bankntb

Sumbawa Besar, SR (21/05)

Drs H Nadi Husain, Ketua MUI Kabupaten Sumbawa
Drs H Nadi Husain, Ketua MUI Kabupaten Sumbawa

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sumbawa tengah menyoroti dua aliran berpaham menyimpang. Sorotan ini menyusul laporan masyarakat yang merasa resah dengan keberadaan dua aliran yang dinilai mengganggu akidah mayoritas umat Islam di daerah ini.

Untuk menghindari adanya sikap dan tindakan yang memprovokasi masyarakat, MUI menggelar rapat mengundang sejumlah unsur di antaranya Muhammadiyah, NU, NW dan tokoh agama serta pihak Kementerian Agama, Selasa (20/5).

Ketua MUI Kabupaten Sumbawa, Drs H Nadi Husain yang ditemui usai rapat, Selasa sore, mengakui adanya dua paham yang menyimpang. Yaitu kelompok yang belum diketahui nama alirannya, namun sangat intensif melakukan dakwah melalui selebaran dan pengajian agar masyarakat dan para jamaah menjustifikasi paham yang diyakininya. “Paham yang mereka bawa menyimpang dari syariat yang dipahami oleh mayoritas umat Islam tidak hanya di Sumbawa tapi umat Islam di Indonesia pada umumnya,” kata Haji Nadi—akrab ulama ini disapa.

Dalam paham yang disebar oleh seorang pengusaha dan pemilik toko pakaian di Kota Sumbawa tersebut, ungkap Haji Nadi, memahami bahwa pedoman umat Islam hanya Al-Qur,an. Padahal dalam paham mayoritas umat Islam, pedoman minimal Al-Qur’an dan hadist, di samping Ijma (kesepakatan para ulama) dan Qias (membandingkan peristiwa satu dengan lainnya untuk menentukan hukumnya).

Edaran lainnya kelompok ini adalah, bahwa firman Allah menyangkut shalat dan zakat selalu bergandengan. Jika sholat dilaksanakan setiap hari atau lima waktu sehari semalam, zakat pun demikian. Sementara dalam paham mayoritas umat Islam, bahwa zakat ada haulnya (waktu) dan hisab (jumlah).

Baca Juga  Direktur RSUD Sumbawa: Penanganan Sudah Prosedural

Di bagian lain edaran yang disebarkan kelompok ini juga lanjut Haji Nadi, menyebutkan rasul itu bisa dari kalangan semua orang, artinya Muhammad bukan rasul terakhir melainkan bisa berlanjut atau muncul sampai hari kiamat. “Inilah beberapa di antara paham yang mereka sebarkan yang kami nilai menyimpang. Tapi kami belum bisa katakan ini aliran sesat atau tidak, sebab masih menunggu fatwa dari MUI pusat,” ujar Haji Nadi.

Mengingat mereka secara rutin menggelar pengajian dan menyebarkan selebaran berisi paham tersebut, Haji Nadi menilai MUI harus segera turun tangan. Ia khawatir dengan adanya selebaran tersebut akan membawa dampak negative bagi umat Islam pada umumnya, serta berpengaruh terhadap kondusifitas daerah. “Ini yang harus segera kita antisipasi,” tandasnya.

MUI berencana akan memanggil ketua dari kelompok paham yang dinilai menyimpang tersebut. Selain meminta klarifikasi juga memberikan pencerahan agar segera meninggalkan paham yang menyimpang ini.

Selain kelompok itu, Haji Nadi juga menyinggung keberadaan kelompok aliran Syiah di wilayah Kota Sumbawa. keberadaan kelompok aliran ini dinilai berbahaya karena akan memantik konflik sebagaimana yang telah terjadi di daerah lain. Sebab aliran ini hanya mengakui Khalifah Ali Bin Abi Thalib dan tidak mengakui khalifah lainnya seperti Abu Bakar As Sidiq Ra dan Umar Bin Khattab Ra. Di samping tata cara ibadah dan lainnya yang dianggap menyimpang. “Sudah ada laporan, dan setelah kami pastikan siapa-siapa mereka, MUI akan layangkan panggilan,” ujarnya.

Baca Juga  Pasca Penembakan Polisi, Keamanan Diperketat

MUI menghimbau masyarakat terutama umat Islam di Kabupaten Sumbawa untuk tidak terpengaruh dengan aliran baru yang membawa paham yang menyimpang dari paham mayoritas umat Islam. Untuk memperkuat himbauan ini, pihaknya akan menggelar diskusi diniyah guna membahas hal-hal yang menjadi pegangan pokok mayoritas umat Islam dalam rangka memperkuat aqidah sehingga dapat menjadi benteng dari pengaruh negative yang datang dari luar. (*)

iklan bapenda