Siswa SMP 1 Unter Iwes Ujian di Rumah Sakit

oleh -4 views
bankntb

Sumbawa Besar, SR (06/05)

Bila seluruh peserta Ujian Nasional (UN) SMP/MTs, di hari pertama yang digelar serentak, Senin (5/5), melaksanakan ujian di sekolahnya masing-masing, tidak demikian dengan Hendra Wijaya.

amdal

Pelajar di SMP Negeri 1 Unter Iwes ini, terpaksa harus mengikuti ujian hari pertama yang mengujikan mata pelajaran Bahasa Indonesia, di Zal Dalam Rumah Sakit Umum (RSU) Sumbawa, setelah divonis menderita penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).

Meski terpisah dari teman-temannya dan menjawab semua soal ujian seorang diri, Hendra, tampak tetap bersemangat. Layaknya ujian di sekolah, Hendra, juga tetap diawasi oleh dua pengawas ujian selama mengikuti ujian di rumah sakit.

Ditemui Gaung NTB, kepala sekolah setempat, Punijan, SPd, mengakui salah satu siswanya harus mengikuti ujian hari pertama di rumah sakit. “Ia (Hendra) belum diizinkan pulang oleh dokter, sebab kondisinya belum stabil. Hendra menderita penyakit DBD,” ujarnya.

Sebelumnya pihak sekolah kata Punijan, sudah menawarkan kepada siswanya tersebut untuk mengikuti ujian susulan, namun ditolak dan tetap ingin mengikuti ujian utama kendati harus melaksanakannya di rumah sakit. “Semga besok (hari ini) kondisinya sudah baik, agar bisa bergabung dengan teman-temannya di sekolah,” tandasnya.

Selain Hendra sambung Punijan, yang juga Sekretaris Forum Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP/MTs Kabupaten Sumbawa itu, di sekolahnya ada satu siswa lagi yakni Abdul Hakim, yang tidak ikut ujian di hari pertama.

Baca Juga  UKM FILA UTS Seminar KTI dan Ganti Pengurus

Bedanya, Abdul Hakim, tidak mengikuti ujian bukan karena sakit melainkan lebih memilih menjadi TKI ketimbang harus menamatkan pendidikannya. Padahal Ia telah terdaftar Dalam Nominasi Tetap (DNT) sebagai peserta ujian tahun ini.

Khusus nama yang disebut terakhir, kepala sekolah bersama guru BP sampai harus turun tangan untuk memintanya menunda dulu keinginannya untuk bekerja ke luar negeri, sebelum ujian dilaksanakan.

Padahal menurut Punijan, Abdul Hakim, tinggal selangkah lagi menamatkan pendidikannya karena sebelumnya sudah mengikuti ujian sekolah. “Saya bersama guru BP datang langsung ke rumah orang tuanya, untuk meminta agar keinginannya menjadi TKI ditunda dulu sebelum UN, karena sayang dia sudah ikut ujian sekolah. Tapi karena menjadi TKI sudah jadi pilihannya, sekolah tidak dapat berbuat banyak,” pungkasnya. (*)

iklan bapenda