Budaya ‘Rantok’ Sambut Gerhana Matahari Cincin

oleh -4 views
bankntb

Sumbawa Besar, SR (30/04) 

Budaya Rantok
Budaya Rantok

Gerhana Matahari Cincin yang dapat terlihat dari Sumbawa Selasa (29/4) sekitar pukul 14.50 Wita, disambut sebagian masyarakat dengan memukul “rantok” dan menggelar Sholat Gerhana di  Masjid Agung Nurul Huda.

amdal

Pemukulan rantok yang dilakukan sekelompok ibu-ibu berusia lanjut yang dipimpin Nenek Madi yang berumur sekitar 102 tahun ini merupakan budaya dan adat Samawa yang dilakukan ketika menyambut gerhana bulan dan gerhana matahari, serta ritual adat lainnya.

Menurut Nenek Madi, pemukulan rantok ini selain melestarikan budaya dan adat Samawa, juga bermakna untuk membantu bumi dan langit yang mengalami ‘kesakitan’ akibat gerhana tersebut. “Pukel rantok ta kenang sangilang sakit ade ya perasa leng tana ke langit (pukul rantok ini untuk menghilangkan sakit  yang dirasakan bumi dan langit),” kata nenek renta yang masih jelas bertutur kata ini dalam Bahasa Samawa.

Nenek Madi, Sesepuh Rantok
Nenek Madi, Sesepuh Rantok

Sementara Ust H Ahmad Arifin LC—salah satu imam masjid Agung Nurul Huda mengatakan,  gerhana matahari itu merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah SWT, sehingga manusia itu dianjurkan untuk melaksanakan Sholat Gerhana. “Sholat ini sebagai bentuk ketundukan hamba kepada Allah, dan merenungi kebesaran serta kekuasaan Allah,” ujarnya Ust Arifin.

Menurut informasi, gerhana matahari cincin ini dapat dilihat dari Australia, Samudra Hindia bagian selatan, Antartika dan Indonesia. Untuk Indonesia, gerhana ini dapat dilihat dari beberapa wilayah seperti Yogyakarta, Jawa Timur bagian selatan, Bali dan Nusa Tenggara. (*)

Baca Juga  Tambang Mangaan di Jereweh Menyalahi Aturan
Ust H Ahmad Arifin LC
Ust H Ahmad Arifin LC

iklan bapenda