Sisihkan 5 Tim, UTS Harapan 2 Lomba Tekhnologi Nasional

oleh -0 views
bankntb

Sumbawa Besar, SR (27/04)

Mahasiswa UTSMenjadi satu-satunya perguruan tinggi dari wilayah Indonesia bagian timur yang lolos hingga grand final pada Kompetisi Clean Technology Indonesia 2014,  merupakan sebuah kebanggaan. Inilah yang dirasakan tim dari Fakultas Tekhnologi Pertanian Universitas Tekhnologi Sumbawa (UTS). Di ajang tersebut tim FATETA UTS terdiri dari tiga orang mahasiswa semester 2, berhasil meraih juara harapan ke-2, menyisihkan separuh dari total 10 tim yang berkompetisi di babak Grand Final yang berlangsung di kampus Universitas Brawijaya, Jum’at (25/4). Dalam event bergengsi ini Institut Tekhnologi Surabaya (ITS) menempati posisi teratas, disusul Tim Universitas Brawijaya, UGM, UNDIP dan UTS meraih juara harapan 2.

Berkompetisi dengan sejumlah universitas besar se-Indonesia, UTS sebagai universitas yang baru lahir mampu bersaing dan menunjukkan kualitasnya dalam ajang tingkat nasional.

Bagi para elang muda (sebutan mahasiswa UTS) mengaku bangga dengan prestasi dan pengalaman mereka sebagai finalis. Pasalnya, kesempatan tersebut dimanfaatkan selain sebagai ajang unjuk kualitas dan silaturahim, juga momen memperkenalkan UTS di dunia perguruan tinggi nasional. “Kami bangga dan sangat senang, meski menjadi harapan ke-2, karena api kami berkompetisi dengan mahasiswa-mahasiswa hebat dari universitas-universitas besar Indonesia,” kata Isyudi Syahputra, didampingi dua rekannya, Derry Aprilio dan Muhammad Ridwan.

Menurutnya, pengalaman selama berlomba sangat berkesan dan takkan pernah terlupakan. Ia berharap pada kesempatan akan datang mereka semakin baik dan kembali mengharumkan nama UTS sekaligus membuat mampis rungan (kabar indah) bagi Tana Samawa.

Baca Juga  Advokasi Disabilitas, FFD Produksi Film “The Feelings of Reality”

Untuk diketahui, ada 10 tim dari 6 universitas yang lolos grand final kompetisi technology tingkat nasional ini. Adalah dua tim dari ITS, 3 tim Universitas Brawijaya, dan masing-masing satu tim dari UGM, UNDIP, Universitas Negeri Malang, Universitas Islam Negeri Riau, dan UTS. Seluruh tim telah menampilkan performa terbaiknya melalui presentasi proposal dan aplikasi tekhnologi di babak grand final.

UTS lolos seleksi dan menjadi finalis pada ajang bergengsi ini setelah ketiga mahasiswa membanggakan tersebut mengajukan proposal dan video ke panitia pelaksana kompetisi, hingga akhirnya lolos seleksi dan menjadi finalis.

Proposal tersebut berjudul “pemanfaatan limbah kulit pisang sebagai energy listrik alternative di daerah Tepal, Batu Lanteh, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat” ini dipresentasikan dan dipraktekkan (aplikasi teknologi) di hadapan dewan juri.

dalam proposalnya memaparkan bahwa limbah kulit pisang ini dapat menjadi sumber energy listrik alternative, terutama di daerah Tepal, sekaligus mampu memenuhi kebutuhan sumber energy listrik alternative bagi daerah di seluruh wilayah Sumbawa. Hal ini mengingat Sumbawa sering mengalami difisit energi listrik yang berdampak pada pemadaman listrik dan mengganggu aktivitas masyarakat.

Berangkat dari dasar pemikiran bahwa Tepal adalah salah satu sentra produksi pisang di Sumbawa mengakibatkan produksi limbah pisang menjadi sangat tinggi. Ternyata kulit pisang mengandung bermacam elektrolit seperti potassium, kalium, klorida, magnesium, dan asam asetat yang mampu menghantarkan ion dan electron dalam elektroda.

Baca Juga  Libatkan 200 Relawan, Lab Genetik STP Lakukan Swab Massal, Ini Lokasinya

Inovasi yang ditawarkan tim UTS dalam kompetisi tersebut adalah mengelola limbah kulit pisang menjadi bubur dan dikembangkan menjadi accu (aki) cair sebagai penghasil energi listrik. Berdasarkan hasil penelitian mereka, dengan perbandingan air:kulit pisang sebesar 8:1 merupakan perlakuan terbaik menghasilkan tegangan sebesar 0,95 Volt yang mampu menggerakkan kipas angin dengan tegangan 6 volt.

Ke depannya inovasi ini dapat dikembangkan menjadi sumber energi listrik alternative, di mana pisang merupakan tumbuhan yang mampu tumbuh dan berbuah sepanjang tahun tanpa dipengaruhi musim, dan tidak membutuhkan biaya yang besar seperti teknologi-teknologi alternative yang dikembangkan lainnya. (*)

 

iklan bapenda