Home / Pendidikan / Pemilukada Kabupaten Sumbawa 2020: Menguatnya Pemilih Sosiologis

Pemilukada Kabupaten Sumbawa 2020: Menguatnya Pemilih Sosiologis

Oleh: Joni Firmansyah, SIP., MIP (Dosen Ilmu Pemerintahan IISBUD SAREA Lulusan Magister Ilmu Politik Universitas Indonesia)

SUMBAWA BESAR, SR (26/1/2020)

Survei MY Institute tanggal 3-13 Januari 2020 menghadirkan beberapa temuan survei yang menarik untuk diulas. Dalam surveinya, disebutkan bahwa masyarakat yang menginginkan calon Bupati berasal dari masyarakat asli Sumbawa sebesar 78,2% dan 69,9% untuk Wakil Bupatinya. Data tersebut memberikan indikasi bahwa penolakan bakal calon yang bukan asli Sumbawa sangat besar, serta memberikan gambaran bahwa pemilih sosiologis cenderung sangat kuat. Hal ini dapat dikarenakan asas hubungan kekeluargaan dan kebersamaan di antara lingkaran-lingkaran sosial masyarakat, membentuk soliditas etnis yang kokoh. Semangat kebersamaan dan kekeluargaan yang kuat tersebut mengakarkan istilah tau kita (golongan kita) yang apabila memegang tampuk kekuasaan, akan memberikan akses serta komunikasi yang jauh lebih cair. Pendekatan sosiologis merupakan salah satu dari tiga pendekatan yang kerap digunakan untuk menganalis tipologi pemilih di dalam pemilu.

Dua pendekatan lainnya adalah pendekatan psikologis dan pendekatan pilihan rasional (rational choice). Pendekatan psikologis cenderung berbicara mengenai 1) persepsi dan penilaian pribadi terhadap kandidat; (2) persepsi dan penilaian pribadi terhadap tema-tema yang diangkat; dan (3) identifikasi partai atau partisanship. Sementara pendekatan pilihan rasional lebih mengarah kepada aspek untung dan rugi yang harus diperhitungkan karena pemilu tak ubahnya pasar yang membutuhkan permintaan (pemilih) dan penawaran (partai politik). Menurut Emilia dan Wawan Ichwanuddin (2015) dalam Partisipasi Politik dan Perilaku Memilih Pada Pemilu 2014 menjelaskan bahwa asumsi dasar dari pendekatan sosiologis adalah setiap manusia terikat di dalam berbagai lingkaran sosial, seperti keluarga, tempat kerja, lingkungan tempat tinggal, dan sebagainya. Setiap individu didorong untuk menyesuaikan diri sehingga perilakunya dapat diterima oleh lingkungan sosialnya. Dieter Roth (2009) dalam Studi Pemilu Empiris: Sumber, Teori-teori, Instrumen dan Metode, menjelaskan bahwa setiap individu yang memilih di dalam pemilu dipengaruhi oleh posisi status sosial-ekonomi, agama, kesukuan, dan tempat tinggal. Bahkan secara lebih jauh, Saiful Mujani, William Liddle dan Ambardi (2012) dalam Kuasa Rakyat: Analisis tentang Perilaku Memilih dalam Pemilihan Legislatif dan Presiden Indonesia Pasca-Orde Baru juga menyebutkan bahwa agama, tingkat relijiusitas, ras, etnis dan sentimen kedaerahan menjadi faktor yang dominan dalam mempengaruhi kecenderungan seseorang memilih di dalam pemilu.

Kecenderungan hadirnya pemilih sosiologis nampaknya tidak hanya hadir di Kabupaten Sumbawa. Beberapa daerah lainnya juga pernah mengalami dominasi dari pemilih ini. Kita dapat berkaca kepada Pemilukada DKI Jakarta tahun 2017 dimana masyarakat ibukota nampak lebih heterogen, namun saat isu etnisitas dan relijiusitas dimainkan, peta politik DKI Jakarta langsung berubah karena menguatnya pemilih sosiologis tadi.

Di NTB sendiri, kemenangan pasangan Zulkieflimansyah dan Siti Rohmi Djalilah dalam pemilukada NTB tahun 2018 dapat di analisa melalui pendekatan ini, dimana terjadi konsentrasi soliditas etnis Sumbawa dan pecahnya suara etnis Sasak karena banyaknya jumlah kandidat dari etnis tersebut. Di dalam pemilu, pemilih sosiologis jauh lebih mudah untuk dimobilisasi dan concern mereka terhadap pemilu cukup besar. Berbeda halnya dengan karakteristik pemilih lainnya, pemilih sosiologis tidak terlampau mempedulikan persepsi dan penilaian pribadi mereka terhadap kandidat serta tidak terikat kepada dominasi partai politik.

Terlepas apapun pilihan partai politiknya, pemilih sosiologis lebih mengedepankan isu-isu yang berkaitan dengan etnisitas, relijiusitas dan sentimen kedaerahan. Walaupun demikian, terlepas dari apapun karakteristik pemilih yang muncul, pemilu Kabupaten Sumbawa nantinya harus menjadi pesta adu gagasan dan politik nilai. Seluruh proses politik yang dilakukan, harus mengedepankan etika politik dengan niatan untuk berprestasi dan menjaga nama baik. Semoga saja gagasan-gagasan yang dihadirkan kepada publik, dapat bermanfaat bagi Tau dan Tana Samawa. (*)

Lihat Juga

Wapres Bahas Penangkalan Radikalisme, Gubernur Paparkan Beasiswa

MATARAM, SR (19/2/2020) Wakil Presiden Republik Indonesia Prof. Dr. (HC) KH Ma’ruf Amin didampingi Gubernur ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *