Home / Ekonomi / Mitan Mahal, Pertamina Sebut Ranah Polisi untuk Bertindak
Sales Brand Manager Pertamina Wilayah NTB II, Sigit Wicaksono

Mitan Mahal, Pertamina Sebut Ranah Polisi untuk Bertindak

SUMBAWA BESAR, SR (7/12/2019)

Dalam beberapa bulan ini minyak tanah (mitan) langka. Padahal masih banyak masyarakat yang sangat membutuhkan. Hal ini mengingat konversi mitan ke gas masih belum familiar bagi sebagian masyarakat. Masyarakat masih takut menggunakan gas elpiji meski ini menjadi program pemerintah. Kondisi kelangkaan mitan ini dimanfaatkan oknum-oknum tertentu untuk memainkan harga di pasaran. Meski harga eceran tertinggi (HET) mitan yang ditetapkan pemerintah melalui Pertamina sebesar Rp 2.940—Rp 3.000-an per liter, namun di pasaran harganya melambung tinggi hingga mencapai Rp 14—15 ribu per liter. Bahkan secara terang-terangan penjualan mitan seharga itu dilakukan melalui media social—salah satu grup facebook jual beli online. Sejauh ini pihak-pihak terkait dan berkewenangan dalam menyikapi masalah tersebut terkesan tutup mata dan melakukan pembiaran.

Operation Head Pertamina Depot TBBM Badas, Yanuar yang dihubungi belum lama ini menyebutkan bahwa stok mitan di lokasi kerjanya (Sumbawa dan KSB) aman untuk beberapa hari ke depan. Harga HET masih tetap dan tidak ada kenaikan. Terkait mahalnya harga mitan di pasaran lebih tinggi dari HET menurut Yanuar, kemungkinan efek dari program konversi dari mitan ke gas.

Sementara Sales Brand Manager Pertamina Wilayah NTB II, Sigit Wicaksono yang ditemui di Kantor Bupati Sumbawa, Jumat (6/12) menyatakan bahwa harga mitan tetap sesuai HET. Mengenai melonjaknya harga mitan di pasaran, Sigit menegaskan itu berkaitan dengan perbuatan oknum, dan menjadi ranah pihak kepolisian untuk bertindak. Ketika ditemukan penjualan mitan dengan harga tidak wajar hingga sampai Rp 14 ribu per liter apalagi dilakukan secara terang-terangan melalui media social, patut diindikasikan terjadi penimbunan. Tentu ini sudah masuk pidana dan ditindak secara hukum. “Masyarakat bisa melaporkannya,” ujar Sigit.

Mengenai pengawasan penyaluran Mitan, lanjut Sigit, Pertamina hanya sampai pada level agen dan pangkalan. “Di pangkalan sudah ada plangnya, kalau dijual di atas HET silakan lapor ke Pertamina. Ketika Penyalur (agen) dan Sub Penyalur (pangkalan) melakukan pelanggaran langsung kita PHO. Jika pengecer yang bermain, maka itu menjadi ranah kepolisian,” tandasnya.

Dalam kesempatan itu Sigit mengakui bahwa jatah distribusi Mitan di Kabupaten Sumbawa dan KSB berkurang. Biasanya setiap hari rata-rata 65 KL, kini hanya 20—25 KL per hari. Pengurangan ini karena adanya program pemerintah yaitu konversi mitan ke gas. Pemerintah sudah menyalurkan LPG kepada masyarakat termasuk di Kabupaten Sumbawa. Selain itu sudah dibangun SPBE (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Elpiji) di Kecamatan Maronge untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat Kabupaten Sumbawa. “Kalau ada yang berteriak minyak tanah mahal, ya karena memang sudah waktunya pakai elpiji. Intinya, masyarakat kita sudah cerdas, kalau tahu mitan mahal, ngapain dibeli. Ini Elpiji sudah jelas-jelas murah dan barang ada dimana-mana,” pungkasnya. (JEN/SR)

Lihat Juga

TNI-Polri Bersinergi Hijaukan Bendungan Arahmano Lenangguar

SUMBAWA BESAR, SR (12/1/2020) Musim hujan dimanfaatkan untuk reboisasi dengan menanam berbagai macam bibit pohon ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *