Home / HukumKriminal / Diduga Cinta Ditolak, Perawat RSMA Dipecat

Diduga Cinta Ditolak, Perawat RSMA Dipecat

SUMBAWA BESAR, SR (2/9/2019)

Direktur Rumah Sakit Manambai Abdulkadir (RSMA), dr. Arindra Kurniawan melakukan pemberhentian sepihak terhadap YDA S.Kep. Ns—perawat setempat yang berstatus Tenaga Harian Lepas (THL). Pemberhentian ini dilakukan Direktur karena perawat bersangkutan dinyatakan melakukan pelanggaran etik keperawatan, salah satunya melanggar ketentuan Surat Perjanjian Kontrak Kerja pasal 4 huruf d dan k. Namun pemecatan sepihak dengan alasan melanggar kode etik ini tentu saja tidak diterima baik oleh YDA dan keluarganya. Mereka menilai pemecatan itu tidak sesuai ketentuan. Diduga kuat alasan pemecatan karena persoalan pribadi. Khususnya terkait masalah asmara.

Perwakilan Keluarga YDA, Andi Rusni SE mengajukan protes atas pemecatan dengan alasan yang tak masuk akal ini. Andis—akrab mantan Anggota DPRD Sumbawa ini langsung mendatangi RSMA, Senin (2/9). Andis ingin meminta klarifikasi apa yang dilakukan korban (YDA) sehingga dinyatakan melanggar etik dan diberikan sanksi yang berat yakni pemecatan. Namun harapan Andis untuk mendapatkan kejelasan tersebut, belum tersampaikan karena Dirut RSMA maupun Komite Etik di Bagian Kepegawaian, sedang berada di luar daerah.

Kepada sejumlah wartawan di RSMA, Andis mengaku bahwa kedatangannya untuk mengetahui apa latar belakang pemecatan itu. Karena pihaknya menemukan sejumlah kejanggalan. Menurut surat pemberhentian, korban dinyatakan telah melanggar kode etik. Tapi kode etik seperti apa yang dilanggar, masih belum jelas.

Ia mengakui sudah menelusuri kasus pemecatan ini dan dipastikan tidak ditemukan adanya pelanggaran etik keperawatan. Dalam satu kesempatan Direktur RSMA juga sudah mengaku bahwa pemecatan YDA tidak berdasarkan kode etik melainkan murni karena alasan pribadi. Hal itu disampaikan Dirut RSMA ketika orang tua dan kakak YDA datang menemui Direktur RSMA pasca adanya surat pemecatan. Selain itu ungkap Andis, Komite Etik RSMA juga menyatakan pemecatan itu tidak pernah melalui mekanisme kode etik. Karena itu Andis menyimpulkan bahwa pemecatan ini karena persoalan pribadi direktur. Andis mengaku mengantongi sejumlah bukti hasil percakapan Direktur RSMA dengan YDA. Terungkap Direktur RSMA memiliki perhatian lebih kepada YDA. Namun perhatian atau rasa suka dan cinta tersebut ditolak YDA, karena Direktur RSMA sudah berkeluarga. Hal ini sudah disampaikan YDA secara baik-baik. Entah karena penolakan itu, YDA kerap dipindahkan dari ruangan ke ruangan lainnya dan terakhir di Ruang Perawatan Anggrek (Kelas 3). Kondisi ini membuat YDA mengalami tekanan psikologis. Pemindahan itu dilakukan dengan alasan hak prerogative direktur. “Meski itu haknya, tapi kewenangan pemindahan tidak boleh digunakan secara sembarangan,” sesalnya.

Tidak sampai di situ saja, lanjut Andis, percakapan Direktur dan YDA via media social (Whatsapp) diketahui oleh isteri direktur. Agar tidak salah paham, YDA memberanikan diri mendatangi kediaman direktur untuk memberikan penjelasan. Di hadapan istrinya, kata Andis, direktur berterus terang bahwa dia jatuh hati kepada YDA. Direktur juga membantah YDA yang lebih dulu menggodanya. “Jadi inilah yang harus diluruskan, karena ini menyangkut nama baik si pegawai dan keluarganya. Agar tidak terkesan seolah-olah pegawai ini ingin menghancurkan rumah tangga orang,” tukasnya.

Dengan terkuaknya kasus ini oleh istrinya, ungkap Andis, direktur itu beralasan bahwa dirinya di bawah tekanan dan diminta untuk memberhentikan YDA dari RSMA. Pengakuan Direktur ini disaksikan sejumlah orang. Adanya pernyataan ini menurut Andis, mengartikan direktur telah menyalahgunakan kekuasaan dan wewenangnya mengingat pemberhentian itu bukan karena pelanggaran disiplin atau kode etik. Tapi berdasarkan persoalan pribadi. Untuk itu Andis menuntut Direktur RSMA mencabut keputusan pemecatan tanpa ada toleransi waktu, mengembalikan nama baik korban serta mengembalikan korban untuk bekerja dalam waktu satu kali 24 jam.

Direktur RSMA, dr. Arindra Kurniawan gagal dikonfirmasi. Saat sejumlah wartawan mendatangi RSMA, Direktur maupun Komite Etik tidak berada di tempat. Menurut pegawai setempat, direkturnya berada di Mataram. SAMAWAREA mencoba melakukan konfirmasi via WA, namun belum mendapat jawaban. Dihubungi melalui panggilan WA juga tidak diangkat.

Sementara Kabid Penunjang RSMA, Fathi, SKM., M.Kes, mengatakan, persoalan ini merupakan kewenangan dari Bagian Personalia yang kebetulan sedang melaksanakan tugas dinas bersama Direktur RSMA di luar daerah. Fathi menegaskan tidak berkapasitas untuk memberikan keterangan pers terkait persoalan itu apalagi mengambil keputusan sebagaimana permintaan keluarga. “Saya harap teman-teman bisa bersabar. Sambil menunggu mungkin nanti begitu beliau (Direktur) kembali. Apa yang menurut pihak keluarga ini sebagai keganjilan, akan kami sampaikan untuk nanti bisa difasilitasi,” pungkasnya. (JEN/SR)

Lihat Juga

Bekuk Pengedar Narkoba, Polisi Temukan 8 Poket Shabu  

SUMBAWA BESAR, SR (12/9/2019) Belum lama dilantik sebagai Kasat Reserse Narkoba Polres Sumbawa, IPTU Akmal ...

One comment

  1. Allahuakbar..
    Gimana mau maju kalo gini.. 😏

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *