Home / Pendidikan / Cerita Rektor UTS dari Moskow: Kehadiran Hutan di Tengah Kota

Cerita Rektor UTS dari Moskow: Kehadiran Hutan di Tengah Kota

MOSKOW, SR (12/8/2019)

Sore kemarin, setelah tidur siang 4 jam-an karena kelelahan di perjalanan, kami diajak oleh Prof Nataliya dan suaminya jalan-jalan. Kami diajak ke hutan. Oh maaan, pengennya saya kita kemana gitu, lihat Kota Moscow atau ke Mall buat belanja (maklum jarang ke Mal, hehe), kami malah  diajak ke salah satu park (taman), yang lebih pas saya sebut hutan karena luasnya area tersebut jika dibandingkan taman di Indonesia. Hutan ini terletak di sepanjang aliran sungai di Kota Moscow, Vorobyovy Gory Park (jika tidak salah namanya). Di hutan ini terdapat banyak mainan anak (play ground), jogging dan biking track sepanjang hutan, dan juga termasuk tempat berjemur di pinggir sungai (ups ini gak usahlah diceritakan lebih dalam, hehe). Karena ini masuk musim panas (musim panas mereka tetap aja dingin menurut saya: 13-22 C) jadi untuk kegiatan terakhir lumayan banyak juga dilakukan… saya juga ikutan berjemur, tapi ya gak pantes, kulit udah gelap dan biasa berjemur juga di Sumbawa, kkkk…

Ngomong-ngomong soal suhu, beruntunglah kita orang Indonesia, yang merasakan hangatnya matahari dari tahun ke tahun. Orang di negara-negara sub tropic apalagi di Rusia ini, bisa jadi mereka bahagia melihat yang namanya salju, tapi cukuplah kita semua tahu, bahwa mereka mencintai sekali hangatnya matahari dari musim ke musim. Kondisi ini cukup ekstrim sebenarnya kami rasakan, karena sebelum sampai di Moskow, rombongan kami sempat transit di Abu Dhabi (pake Dzho ternyata, abudzhobi bacanya), yang di jam 02.00 dinihari aja, suhunya masih tinggi sekali. Sempat saya salah kira, saya kira hawa panas dari mesin-mesin pesawat, karena perasaan seperti berdiri di belakang knalpot, sungguh. Makanya kalau hari ini kita hidup di Jakarta, Surabaya atau Sumbawa dan teriak-teriak panas, beneran deh, suasana ini masih jauh-jauh lebih enak, karenanya kita harus banyak-banyak bersyukur. Indonesia yang tropis, bisa merasakan suhu yang moderat sepanjang tahun. Spesial untuk di Sumbawa, terik memang sinar mataharinya, tapi kalau kita berteduh aja, sudah enak dirasakan adem.

Kembali lagi ke tema tulisan ini. Kehadiran hutan di tengah kota, sepertinya akan selalu menjadi oase kehidupan masyarakat kota. Beberapa taman kota sempat saya kunjungi: Yeouido Park-nya Seoul, Central Park-nya New York, Botanical Garden-nya Sydney, isinya memang tempat orang-orang olahraga, dan sepertinya paling tepat disebut sebagai: tempat orang releasing stress. Kehadiran hutan kota ini dirasa penting sebagai penyeimbang kehidupan kota dan masyarakatnya yang super sibuk mengurus kerjaan dan orang lain, tapi di sini, mereka juga bisa menjadi tempat untuk ‘me time’, bahasa lainnya mungkin menenangkan diri dan rekreasi bersama sahabat dan keluarga.

Oh ya, ada salah satu spot menarik yang kami kunjungi kemarin, yaitu kehadiran berbagai pohon buah di hutan tersebut. Semua orang boleh metik, asal dijaga saja. Mulai dari red-berry, ‘tomat’ dari pohon mawar yang kaya vitamin C. Ada juga pohon-pohon seperti apel dan jeruk yang bisa dipetik. Kedewasaan para pengunjung juga sepertinya menjadi penguat kehadiran hutan kota ini. Dari ujung pintu masuk sampai mentok dan kembali lagi, saya kesulitan menemui petugas keamanan. Malu juga bertanya ke Prof Nataliya, “Kenapa tidak ada pihak keamanan di sini?” tanya saya cukup dalam hati. Karena khawatirnya dijawab: “kenapa harus ada pihak keamanan, kan ini Cuma hutan biasa aja…”,hehehe…(*)

 

Lihat Juga

Hadapi UNBK, Amman Mineral Gelar Pelatihan Pemantapan Materi dan Bedah SKL

SUMBAWA BARAT, SR (11/10/2019) PT Amman Mineral Nusa Tenggara (PT AMNT) menggelar Pelatihan Pemantapan Materi ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *