Home / MATARAM / Calon Awardee Program Beasiswa S2 Malaysia Harus Ikut MUET
Irwan Rahadi dari Tim Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) NTB

Calon Awardee Program Beasiswa S2 Malaysia Harus Ikut MUET

SUMBAWA BESAR, SR (11/6/2019)

Selain beasiswa untuk masyarakat umum, Pemprov NTB juga melaksanakan program beasiswa S2 bagi para aktivis dengan negara tujuan Malaysia. Namun sebelum kuliah, para calon penerima beasiswa (awardee) diharuskan mengikuti Malaysian University English Test (MUET).

Irwan Rahadi dari Tim Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) NTB kepada SAMAWAREA, Selasa (11/6) mengatakan, program beasiswa segmen baru bagi aktivis di NTB dimaksudkan untuk merangkul para aktivis di organisasi kepemudaan dan kemasyarakatan. Awalnya program ini memang dibuka untuk 20 orang saja. Namun, setelah pendaftarannya dibuka secara online, peminatnya sangat tinggi. Bahkan pendaftarnya mencapai 400-an orang. “Setelah dilakukan seleksi administrasi, yang memenuhi syarat sekitar 230 orang,” ujar Irwan—akrab pria ramah ini disapa.

Setelah seleksi administrasi, para peserta mengikuti tahap wawancara. Ada 10 tim yang disiapkan untuk mewawancarai para peserta. Masing-masing tim ini terdiri dari dua orang. Konfirmasi jadwal wawancara juga dikirim langsung ke email para peserta. Hasil wawancara ini dirapat-plenokan dengan para dewan juri. Pihaknya membahas satu persatu para kandidat tersebut. Ternyata, peserta yang dianggap berkualifikasi lebih banyak dari jumlah target penerima beasiswa. “Jumlahnya mencapai 120 orang,” ungkapnya.

Irwan mengaku pihaknya jauh hari sudah menjelaskan mengenai program beasiswa tersebut kepada calon awardee. Seperti biaya hidup, kampus yang akan menjadi tujuan pendaftaran dan lainnya termasuk biaya tes untuk kualifikasi Bahasa Inggris. Menurut Irwan, kampus di Malaysia tidak menerima TOEFL ITP (Institutional Testing Program). Perguruan tinggi di Malaysia hanya menerima IELTS IBT berbasis komputer. Selain itu, ada satu jenis tes yang hanya dimiliki oleh pemerintah Malaysia yakni MUET. Tes ini hanya dilaksanakan di Malaysia. Karena Malaysia bukan merupakan negara asli pengguna Bahasa Inggris, sehingga tesnya disesuaikan dengan Bahasa Melayu. “Jadi tesnya tidak seketat TOEFL atau IELTS IBT-nya,” terang Irwan.

Biaya tes MUET di Malaysia memang relatif murah. Namun, jika dilakukan di Jakarta maka biaya tesnya cukup mahal yakni sebesar Rp 2 juta. Karena pihaknya telah menjalin kerjasama dengan pihak Malaysia, penyelenggara tes sanggup untuk datang ke Mataram melakukan tes. Tim tersebut dijadwalkan datang dan berada di Mataram mulai 9–14 Juni. Karena tesnya di Mataram, biayanya juga lebih murah sekitar Rp 1,1 juta. Calon awardee juga diminta untuk segera melakukan pembayaran karena konfirmasi pelaksanaan tesnya harus dilakukan tiga minggu sebelum pelaksanaannya. Pihaknya juga menawarkan pembayaran dilakukan melalui LPP. Nantinya nama calon peserta beserta data dan biaya pendaftarannya akan dikirimkan langsung ke penyelenggara MUET. Sehingga calon awardee ini tidak repot-repot untuk mengirimkan data dan biaya pendaftarannya sendiri. Meski calon awardee sudah memiliki persyaratan sebagai penerima beasiswa, namun harus juga memenuhi persyaratan untuk masuk ke universitasnya. “Hal ini sudah kami jelaskan di awal, sehingga nanti jadi bahan permakluman,” katanya.

Irwan mengakui adanya biaya ini dikritik sejumlah pihak. Pihaknya dituding meminta sejumlah dana kepada calon awardee. Tentunya Irwan membantahnya. Dana yang dikeluarkan oleh calon awardee itu hanya untuk biaya tes MUET. Dalam hal ini, pihaknya akan terus berdiskusi untuk mencari solusi terbaik bagi calon awardee.

Sumber Dana Program Beasiswa NTB Tidak Gunakan APBD

Selain itu, pihaknya juga sempat ditanya mengenai sumber dana program beasiswa itu. Ada yang mengatakan bahwa sumbernya adalah APBD. Menurut Irwan, pihaknya tidak menggunakan APBD guna pembiayaan program beasiswa ini. Awardee yang juga sudah dikirim ke Eropa beberapa waktu lalu juga tidak menggunakan APBD. Kecuali program Rumah Bahasa, memang menggunakan APBD. Karena itu merupakan program Pemprov NTB yang mana LPP NTB juga ikut membantu penggarapannya.

Irwan menambahkan, jika mengacu pada beasiswa yang lain, polanya akan sama. Hanya tidak diatur dalam satu sistem, seperti beasiswa dari Pemprov NTB. Dicontohkan, pada program beasiswa sumber lainnya, peserta sudah menerima beasiswa, tapi belum tentu bisa masuk ke perguruan tinggi yang menjadi tujuan karena harus melalui serangkaian tes untuk bisa diterima ke perguruan tinggi dimaksud. Hal ini juga tidak diatur oleh pemberi beasiswa. Karena itu, ia menawarkan keringanan kepada calon awardee, agar pembiayaan bisa lebih murah. Tesnya juga tidak dilakukan di Jakarta sehingga lebih memudahkan pada calon awardee.

Dalam kesempatan itu Irwan menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang sudah memberi respon terhadap program ini. Demikian dengan kritikan dan masukan dari berbagai pihak yang akan dijadikan bahan evaluasi. Pihaknya menyiapkan sistem informasi agar informasi yang disampaikan ke publik bisa lebih rapi. “Kami memiliki keterbatasan SDM untuk mengkafer semua program. Karena program semakin banyak, awardee juga semakin banyak, kami akan lebih membenahi sistem informasi kami agar lebih baik. Salam ta’zim kami kepada rekan-rekan. Kami berupaya profesional dan objektif dalam setiap pekerjaan. Karena kami juga memikirkan kepercayaan publik agar program ini berlanjutan,” demikian Irwan. (SR)

Lihat Juga

Gubernur Ingatkan Pjs Sekda untuk Amanah dan Murah Senyum

MATARAM, SR (13/6/2019) Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), H Zukieflimansyah melantik H Iswandi sebagai Penjabat ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *