Home / Pendidikan / PENYESUAIAN DIRI PESERTA DIDIK

PENYESUAIAN DIRI PESERTA DIDIK

Oleh: Laura Dwi Putri (Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang jurusan Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia)  

Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk sosial, artinya selalu membutuhkan peran orang lain dalam kelangsungan hidupnya. Tidaklah mampu seseorang apabila melakukan segala hal seorang diri, baik dalam segi melakukan pekerjaan maupun menjalankan peran sosialnya. Dalam hidupnya, manusia tidak hanya bertemu dengan satu lingkungan saja, namun semakin meningkatnya segi usia ia akan dihadapi dengan lingkungan-ingkungan baru. Seperti halnya,
tahap-tahap pendidikan yaitu SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi, Dunia pekerjaan bahkan
hingga ia membentuk keluarga baru (menikah).

Interaksi sosial yang baik akan memudahkan diri individu dalam membangun lingkungan sosialnya. Sebuah interaksi terkadang tidak berjalan mulus-mulus saja, namun adakalanya terdapat kendala-kendala dalam melakukan sebuah interaksi baik itu dengan orang baru maupun
lingkungan baru. Banyak juga diri individu terbilang sulit dalam menjalankan interaksi sosialnya, hal ini dikarenakan perbedaan karakter pada tiap individu. Ada individu yang lebih mudah melakukan interaksi dengan hal-hal baru karena ia memang sudah terbiasa berbaur dengan orang lain dan ini membuatnya mudah dalam melakukan adaptasi dengan orang lain atau dengan lingkungan sekitarnya. Sebaliknya, adapun individu yang susah dalam melakukan interaksi sosial dengan orang lain ataupun dengan lingkungannya, karena ia tidak terbiasa berhadapan dengan orang baru dan lingkungan yang baru.

Dalam dunia psikologi karakter individu dibagi menjadi tiga jenis yaitu Introvert, Extrovert, dan Ambivert. Hal tersebut dikemukakan oleh salah seorang psikolog terkenal di Swiss bernama Carl Gustav Jung (C.G Jung). Karakter tersebut berkaitan dengan tercapainya interaksi sosial seseorang, karena Carl Gustav Jung membagi karakter individu dalam tiga jenis yang bertujuan memberikan informasi serta kemudahan bagi orang lain agar dapat memahami karakter individu lainnya sehingga terciptanya sebuah interaksi sosial baik itu antar individu dengan individu, individu dengan kelompok dan kelompok dengan kelompok. Berikut adalah penjelasan mengenai tiga karakter tersebut.

1. Introvert
Introvert merupakan kepribadian yang lebih menyukai menyendiri ketimbang dikelilingi oleh sejumlah orang. Pribadi ini lebih menyukai suasana yang tenang dibandingkan dengan keramaian dunia luar. Apapun yang ia lakukan, ia menganggap bisa tanpa bantuan orang lain. Si introvert tergolong tidak mudah dalam melakukan interaksi dengan orang lain atau lingkungan baru karena ia merasa sulit dalam membentuk hubungan sosial dengan individu lainnya.

2. Extrovert
Kebalikan dari Introvert, extrovert sangat menyukai dunia keramaian. Seorang extrovert menyukai lingkungan interaktif karena ia beranggapan hal tersebut dapat membuatnya bertukar pikiran dengan orang lain. Sebaliknya, jika ia berada di tempat yang sepi atau sedang menyendiri itu membuatnya merasakan kebosanan. Dalam sebuah komunitas seorang introvert memiliki sifat yang terbuka dan hal ini membuatnya menjadi seorang pencair suasana dalam suatu kelompok. Dapat dikatakan seseorang berkepribadian extrovert lebih mudah dalam bergaul.

3. Ambivert
Kepribadian Ambivert adalah gabungan antara introvert dan extrovert. Seorang Ambivert terkadang menjadi seorang Introvert yang lebih menyukai menyendiri dan juga dapat menjadi Extrovert yang menyukai sosialisasi. Kepribadian ini mudah dalam menyesuaikan diri dengan situasi, ia tidak masalah dengan kondisi yang jauh dari keramaian dan juga tidak masalah apabila di keramaian atau identik dengan interaksi dengan orang lain.

Ketiga karakter tersebut pasti kita temui selagi masih menjadi makhluk sosial, baik itu di lingkungan sekolah, lingkungan kuliah dan juga lingkungan kerja di kantor. Dengan adanya tiga
uraian karakter diatas, diharapkan untuk tiap individu lainnya dapat memahami karakteristik kepribadian orang lain bukan dengan jalan menjauhinya. Karakter tersebut sangat mencolok saat seorang individu berada di dunia pendidikan atau bangku sekolah. Telah kita ketahui bahwa tiap individu memiliki karakteristik berbeda-beda untuk itu jalan satu-satunya agar tetap terciptanya sebuah keharmonisan adalah dengan melakukan penyesuaian. Penyesuaian tidak hanya dilakukan oleh individu ke individu lainnya namun juga dapat dilakukan terhadap lingkungan. Seorang anak pastinya melalui tahap-tahap pendidikan, tidak mudah baginya untuk menerima lingkungan baru dan meninggalkan lingkungan lama. Misalnya saat berpindah dari jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) ke jenjang yang berada di atasnya yaitu Sekolah Menengah Atas (SMA) pastinya individu akan memulai sebuah penyesuaian baru yang tidak akan sama dengan keadaan lingkungan sebelumnya. Biasanya dalam hal ini individu akan merasa bimbang dalam menentukan sekolah tujuan berikutnya, namun tidak jarang orang tua mendorong anaknya untuk mengikuti kemauannya agar memasuki sekolah tertentu tanpa memperhatikan apakah anak tersebut menyukai sekolah itu atau tidak. Hal ini nantinya akan menyebabkan timbulnya masalah dalam penyesuaian diri. Anak cenderung tidak dapat menjalin komunikasi antar temannya karena alasan tertentu dan tidak ingin berbaur dengan lingkungannya karena ia memang tidak menyukainya.

Untuk itu dalam memilih sekolah, kehadiran orang tua tidak berperan sebagai pihak memaksa namun membimbing anak untuk memilih sekolah yang memang ia inginkan, sesuai dengan bakat dan kemampuannya, serta mudah baginya dalam melakukan sosialisasi antar teman dan guru. Karena jika tidak, hal ini akan memicu pada menurunnya prestasi belajar anak, yang sebelumnya ia memiliki prestasi belajar yang baik saat di bangku SMP, kemudian cenderung menurun saat di SMA. Hal ini tidak hanya dalam memilih sekolah, namun dalam berbagai hal yang berhubungan dengan masa depan anak nantinya.

Adapun upaya-upaya yang dapat dilakukan agar terciptanya penyesuaian diri pada anak yaitu dengan menjalin hubungan antara sekolah, orang tua siswa dan masyarakat. Tujuannya adalah membicarakan apa saja yang baik dilakukan untuk keberlangsungan penyesuaian diri anak yang baik. Setelah itu sekolah juga memberikan upaya agar penyesuaian tersebut dapat tercapai seperti menciptakan suasana belajar mengajar yang menyenangkan bagi anak, menggunakan strategi dan metode yang baik bagi anak dan kerja sama antar guru dalam melaksanakan pendidikan agar dapat memahami si anak. Karena lingkungan sekolah tidak hanya bertugas dalam mengajar anak, namun juga mempunyai peran dalam perkembangan jiwa anak. Apabila guru, staff, orang tua dan masyarakat telah mampu melaksanakan tugasnya dengan baik maka akan lebih mudah untuk anak melakukan penyesuaian dirinya. (*) 

Lihat Juga

Sosok Wagub Umi Rohmi Ketika SD: Sederhana dan Pintar

MATARAM, SR (12/7/2019) Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalillah atau yang akrab disapa ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *