Home / Pendidikan / Sutradara dan Produser Film Asal Amerika Berbagi Ilmu di UTS

Sutradara dan Produser Film Asal Amerika Berbagi Ilmu di UTS

SUMBAWA BESAR, SR (8/4/2019)

Sutradara dan Produser Film asal Amerika Serikat, Laura Nix berbagi ilmu dengan mahasiswa dan para dosen di Universitas Teknologi Sumbawa (UTS), Senin (8/4/2019). Dalam kesempatan itu Laura yang didampingi Kepala Humas Konsulat Amerika di Surabaya, Christine Getzler Vaughan dan stafnya Esti Durahsanti, serta sejumlah mahasiswa menonton film documenter “Inventing Tomorrow”—salah satu hasil karya Laura Nix yang diputar perdana di ruang Multimedia UTS. “Inventing Tomorrow” merupakan film documenter yang menceritakan kisah para innovator remaja dari seluruh dunia yang menemukan solusi inovatif untuk isu-isu yang mengancam. Siswa-siswa ini melakukan penelitian ilmiah karya original mereka sendiri untuk dipresentasikan pada pertemuan ilmuwan sekolah menengah terbesar di dunia, Intel International Science dan Engineering Fair (ISEF) 2017 yang diadakan di Los Angeles. “Di “Inventing Tommorow” plot cerita mengikuti para ilmuwan muda dari Indonesia, Hawaii, India, dan Meksiko ketika mereka menangani beberapa masalah lingkungan kompleks yang kerap dihadapi orang di seluruh dunia. Bahkan masalah itu justru ditemui di halaman belakang rumah mereka sendiri. Dibingkai dengan latar belakang ancaman lingkungan yang parah yang kita hadapi sekarang, film ini membenamkan penonton dalam pandangan global tentang krisis lingkungan di bumi ini melalui mata generasi yang akan paling terkena dampaknya,” beber Laura Nix yang ditemui SAMAWAREA usai pemutaran documenter.

Dijelaskan Laura, setelah sukses dalam world premier di Kompetisi Dokumenter AS di Festival Film Sundance 2018, film “Inventing Tomorrow” ini juga ikut dalam berbagai festival bergengsi di dunia. Lebih dari 40 festival film di 21 negara bagian dan 9 negara, kepada lebih dari 10.000 siswa dan lebih dari 70 organisasi lokal dan nasional, mendukung film tersebut.

Untuk diketahui, Laura Nix adalah sutradara, penulis, dan produser yang bekerja di bidang non fiksi dan fiksi. Dia baru-baru ini menyutradarai “Inventing Tomorrow” (Sundance US Documentary Competition 2018). Sebelumnya ia menyutradarai “The Yes Men Revolting”, (Toronto Internasional Film Festival 2014, Berlinale 2015) yang dirilis secara teatrikal di dalam negeri dan di beberapa wilayah internasional. Filmnya “The Light in Her Eyes” perdana di IDFA, disiarkan di seri PBS POV dan Al Jazeera Timur Tengah. Fitur lain yang mengarahkan kredit termasuk melodrama komedi “The Politics of Fur” yang bermain di lebih dari 70 festival internasional dan memenangkan beberapa penghargaan termasuk Grand Jury Prize at Outfest, dan Whether You Like It or Not: The Story of Hedwig ? Laura baru-baru ini dinamai Chicken & Egg Breaktrough Filmmaker, penghargaan bergengsi yang diberikan setiap tahun kepada lima pembuat film wanita yang berpengalaman di AS, dan pada 2017 dianugerahi Sundance Institute / Discovery Impact Fellowship. Karya nonfiksinya telah diputar di ratusan festival film internasional, di The New York Times Op-Docs, dan di televise melalui HBO, Arte, ZDF, VPRO, CBC, NHK, Canal+, dan IFC. Sebagai sesama MacDowell, ia telah menerima dukungan dari Bertha Foundation, BritDoc, Cal Humanities, COBO Fund, Danish Film Institute, dan Sundance Documentary Fund.

Di tempat yang sama, Staf Konjen Amerika di Surabaya, Esti Durahsanti mengatakan, kehadiran jajarannya dengan menggandeng Laura Nix di Kabupaten Sumbawa khususnya UTS merupakan program tahunan dari pemerintah Amerika melalui Departemen Luar Negeri. Dalam kunjungan ini, pihaknya ingin lebih memperkenalkan budaya, kehidupan dan informasi lain tentang masyarakat Amerika melalui pemutaran film documenter “Inventing Tomorrow”. Informasi ini langsung diperoleh dari pembuat film tersebut. Sebab selama ini masyarakat dunia termasuk Indonesia khususnya Sumbawa hanya mengenal Amerika dari industri film “Holywod”. Padahal sebetulnya banyak sekali kehidupan sehari-hari masyarakat Amerika atau topic-topik tertentu yang perlu diketahui.

Ditambahkan Kepala Bagian Humas Konsulat Amerika di Surabaya, Christine Getzler Vaughan, dipilihnya Universitas Teknologi Sumbawa untuk menggelar kegiatan semacam ini karena hubungan baik yang sudah lama terjalin, di samping keberagaman mengingat mahasiswa setempat berasal dari seluruh nunsantara.

Diakui Christine, sudah banyak program hasil kerjasama UTS dan Amerika yang telah dilaksanakan. Mulai dari keberadaan American Shop di UTS sebagai pusat informasi mengenai Amerika yang perlu diketahui mahasiswa dan dosen. Ada juga program lainnya. Seperti pertukaran mahasiswa dan dosen untuk magang di Amerika. Sebagaimana yang pernah diikuti Rektor UTS dan beberapa mahasiswa. Sebaliknya mahasiswa Amerika magang di UTS. Belum lama ini juga salah satu alumni UTS, Fahmi Dwilaksono secara resmi telah diterima di Michigan State University untuk melanjutkan study S2. “Ke depan diharapkan akan lebih banyak program, maupun semakin kuatnya interaksi mahasiswa dari universitas ini dengan Amerika,” ujar Christine.

Namun demikian pihaknya selalu mencari dan menemukan kemitraan tidak hanya dengan UTS melainkan juga dengan berbagai universitas lain di NTB. Tahun lalu, dengan Universitas Mataram (UNRAM). “Jika ada universitas di NTB yang ingin bermitra dengan Konjen, silakan berhubungan dengan kami. Ada 5 bidang program yang bisa kami tawarkan yakni lingkungan, ekonomi, Bahasa Inggris, entrepreneur, perempuan dan anak. Kami bisa mendanai program-program kalau ada LSM atau yayasan yang punya gagasan di bidang itu,” pungkasnya. (JEN/SR)

Lihat Juga

127 Pelajar Berlaga di O2SN SMP/MTs Tingkat Kabupaten

KERJASAMA SAMAWAREA DENGAN DINAS DIKBUD KABUPATEN SUMBAWA SUMBAWA BESAR, SR (8/4/2019) Olimpiade Olahraga Siswa Nasional ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *