Home / HukumKriminal / Bayi Meninggal, Pelayanan Puskesmas Lantung Dikeluhkan
Alimuddin Alez, juru bicara keluarga pasien

Bayi Meninggal, Pelayanan Puskesmas Lantung Dikeluhkan

SUMBAWA BESAR, SR (01/01/2019)

Pelayanan di Puskesmas Lantung dikeluhkan masyarakat. Hal tersebut dipicu dari meninggalnya seorang bayi karena diduga lambannya pelayanan puskesmas yang dipimpin H.M. Thamrin ini. keluarga pasin pun protes dan menuntut tanggungjawab puskesmas setempat.

Juru bicara keluarga pasien, Alimuddin kepada SAMAWAREA menyesalkan lambannya pelayanan pihak puskesmas sehingga menyebabkan bayi meninggal dunia. Dituturkannya, ini terjadi pada Hari Minggu (30/12) sekitar pukul 08.00 Wita. Saat itu bayi yang baru dilahirkan ini mengalami gangguan kesehatan. keluarga langsung menghubungi bidan atau perawat di Puskesmas Lantung. Sekitar pukul 09.00, perawat datang ke rumah pasien dan menyarankan agar bayi dibawa ke puskesmas untuk dirujuk ke RSUD Sumbawa. Menggunakan sepeda motor, bayi malang ini dibawa ke Puskesmas. Setibanya di sana, pasien harus menunggu selama 3 jam. Ini disebab karena pihak puskesmas kesulitan mencari sopir dan kunci mobil ambulance (Puskel) yang akan digunakan untuk merujuk pasien. Selama tiga jam itu, pasien tidak diberikan penanganan khusus oleh petugas puskesmas. Ibu bayi sempat meminta perawat agar bayinya ditempatkan dalam incubator. Tapi perawat mengaku bahwa inkubatornya tidak bisa digunakan. Sekitar pukul 12.00 Wita, orang tua bayi menemukan kunci puskel tergantung di bawah stir. Akhirnya  dibantu masyarakat sekitar, bayi yang kondisinya memprihatinkan ini dibawa ke RSU Sumbawa menggunakan Puskel. Sayangnya, setelah tiba di RSU Sumbawa pasien dinyatakan telah meninggal dunia. “Dari kronologis ini saya selaku keluarga dan juga masyarakat Kecamatan Lantung sangat menyesali atas kelalaian pihak puskesmas dalam menangani pasien yang kritis, karena bagaimana mungkin tidak mengetahui dimana disimpan kunci Puskel. Celakanya lagi sopirnyapun tidak ada di tempat,” tukas Alez—akrab Alimuddin disapa.

Padahal ungkap Alez, jika mengacu pada UU No. 36 tahun 2019 tentang Kesehatan terutama pasal 126 ayat 3 yang berbunyi “pemerintah menjamin ketersediaan tenaga, fasilitas, obat dan alat dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara aman, bermutu dan terjangkau”. Kenyataannya yang terjadi di Puskesmas Lantung,  sangat jauh panggang daripada api. Karena itu pihak keluarga dan masyarakat Kecamatan Lantung meminta pihak puskesmas bertanggung jawab atas persoalan ini. “Kami minta tanggung jawabnya, kami juga tidak ingin persoalan seperti ini terjadi lagi, agar pembangunan kesehatan bisa meningkat sesuai dengan amanat UU. Apalagi program inovasi pelayanan “pariri si desa” (pelayanan sehari terintegrasi setiap desa) yang diinisiasi oleh Pak Camat Lantung ada implementasinya di sektor kesehatan,” bebernya.

Sementara itu Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, Surya Darmasyah, Senin (1/1), mengatakan telah memanggil Kepala UPT Puskesmas Lantung, HM Thamrin untuk mengetahui persoalan yang sebenarnya. Menurut keterangan Kepala UPT, bahwa pelayanan yang diberikan kepada pasien sudah sangat optimal mulai dari pra kelahiran hingga rujukan ke RSUD Sumbawa. Sebelumnya, bayi lahir normal di Puskesmas Lantung dibantu perawat dan bidan. Setelah dirawat dan dirasakan sehat, ibu dan bayinya diijinkan pulang ke rumah. Setelah itu, Sabtu malam pukul 21.00 Wita, bayi tersebut tidak mau menyusu. Tapi malam itu orang tua si bayi tidak menghubungi puskesmas atau bidannya. Besoknya pukul 08.00 baru menghubungi puskesmas. “Jadi cukup lama rentang waktu laporan dari malam saat bayi tidak mau nyusu sampai pagi jam 8,” kata Darmasyah.

Mendapat laporan itu, bidan dan perawat datang dan menyatakan bayi itu harus dirujuk ke RSUD Sumbawa. Ketika hendak dirujuk inilah muncul persoalan. Pihak puskesmas kesulitan mencari kunci kontak mobil Puskel yang terparkir. Sementara sopirnya tidak berada di tempat. Ada simpang siur informasi. Menurut keluarga pasien, mereka menunggu sampai tiga jam baru pasien dirujuk. Sedangkan dari keterangan KUPT hanya sekitar 1 jam kunci Puskel ditemukan. Akhirnya suami bidan setempat menjadi sopir untuk membawa bayi menggunakan mobil Puskel. Setibanya di Sumbawa bayi dimasukkan incubator. Tapi penanganan itu tidak lama karena bayi telah meninggal dunia.

Sebenarnya diakui Darmasyah, orang tua pasien tidak mempermasalahkannya. Malah sebaliknya menyampaikan terima kasih atas pelayanan maksimal yang diberikan pihak Puskesmas Lantung. Tapi ada pihak lain yang mempersoalkannya bahkan masalah itu dijadikan status dalam Facebook. Untuk mencari solusi dari masalah ini, Darmasyah mengaku telah berkoordinasi dengan Camat Lantung. Camat pun mengambil langkah-langkah berkoordinasi dengan Kapolsek dan Danramil. Pihaknya juga telah memerintahkan Kepala UPT Puskesmas Lantung berangkat ke Lantung untuk memberikan klarifikasi. “Informasinya pagi tadi digelar pertemuan yang diinisiasi Camat Lantung. Dan sampai sekarang saya belum mendapat laporan,” akur Darmasyah.

Disinggung mengenai sopir Puskel yang tidak berada di tempat saat dibutuhkan, disesalkan Darmasyah. Seharusnya sopir itu tetap standby. Tidak ada alasan sopir ini meninggalkan tempat. (JEN/SR)

 

Lihat Juga

Mantan Kadis ESDM KSB Divonis 1 Tahun, Rekanan Biogas 2 Tahun

SUMBAWA BESAR, SR (16/1/2019) Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Mataram menjatuhkan vonis terhadap 4 terdakwa ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *