Home / Pemerintahan / Pro Kontra Kuliah di Polandia, Nurdin: Jangan Menebar Momok
Nurdin Ranggabarani SH
Nurdin Ranggabarani SH Anggota DPRD NTB

Pro Kontra Kuliah di Polandia, Nurdin: Jangan Menebar Momok

YOGYAKARTA, SR (09/12/2018)
Program Zul Rohmi mengirim mahasiswa NTB melanjutkan study ke luar negeri sangat luar biasa dan patut diapresiasi. Namun ada segelintir orang yang mempermasalahkan program tersebut terutama pengiriman mahasiswa NTB ke luar negeri, khususnya ke Polandia atau beberapa negara yang berpaham komunis. Hal ini memicu pro dan kontra.
Terhadap polemik tersebut, Anggota DPRD NTB, Nurdin Ranggabarani SH., MH kepada media ini, Minggu (9/12), meminta semua pihak menanggapinya secara arif dan bijaksana. Untuk menyudahi masalah ini Ia menyarankan ada penjelasan terbuka dan pencerahan yang komprehensif, sehingga informasi tentang hal ini tidak dicerna sepotong-sepotong oleh masyarakat. “Kita boleh khawatir tapi tidak kemudian menciptakan ketakutan atau menyebar momok yang berlebihan. Jangan juga ketakutan sebagian pihak pun dinilai sebagai upaya negatif yang berlebihan pula. Karena kami sangat yakin, bahwa masukan yang disampaikan itu bagian dari kecintaan mereka kepada NTB dan wujud dari kecintaan mereka kepada Gubernurnya. Ini agar niat baik dan keringat Gubernur tidak berbuah hal yang sebaliknya,” kata Nurdin Raba, akrab politisi PPP ini disapa.
Sebagai sesama komponen NTB, Nurdin memandangnya sebagai sebuah masukan berharga yang tentu ada solusi dan jalan keluarnya. Sepanjang semua dilakukan dengan nawaitu yang baik. “Insha Allah, ada banyak cara yang dapat kita lakukan bersama, untuk tetap mendorong keberlanjutan program ini dengan lebih baik. Misalnya pada saat rekruitmen dibuat kesekapakatan dengan para calon penerima beasiswa bahwa ilmu dunia adalah yang kesekian, namun aqidah dan tauhid adalah yang utama. “Bila perlu ada materi khusus terkait hal tersebut. Dimana nilai dari materi tentang aqidah menjadi penentu bagi mereka untuk diterima atau tidak sebagai penerima beasiswa. Pun ketika mereka sudah berada di sana. Keberlanjutan mereka juga ditentukan oleh hal itu bahkan mungkin para tuan guru dapat bergantian keliling Eropa untuk pengajian tiap bulan,” sambung Nurdin.
Tapi terlepas dari itu semua, ujarnya, tak perlu menebar momok ketakutan yang berlebihan. Ada banyak contoh anak-anak yang berada di negara-negara minoritas muslim tapi justru menjadi semakin kokoh aqidahnya. Sebaliknya, ada anak-anak yang setiap menit berada dalam pelukan kasih sayang dan kehangatan kedua org tuanya bisa murtad dari agamanya. “Ada banyak anak-anak muda kita di luar sana yang bertemu dengan anak-anak yang beda agama kemudian mereka bisa meng-Islamkannya. Pun ada banyak anak-anak yang tidak kemana-mana bahkan tidak keluar rumah tapi tiba-tiba lari dari aqidahnya,” ucap Caleg DPR RI dari Dapil Pulau Sumbawa ini.
Nurdin mengaku pernah ke Cape Town Afrika Selatan. Ia terharu membaca sebuah tugu yg menjulang tinggi di Komplek makam Syaikh Yusuf Al-Makassari. Makam itu terdapat sebuah prasasti indah dan megah bertuliskan “Inilah makam manusia pertama yang melantunkan dan mengajarkan Al-Qur’an di Bumi Afrika”. Demikian pula saat dia mengunjungi makam Syaikh Tuan Ismail Dea Malela di Simonstown Afrika Selatan, yang kemudian menjdi Imam sholat pertama di Bumi Afrika. Para tokoh dan ulama ini yang dibuang ke tengah-tengah lingkungan yang semula tak mengenal Islam sama sekali, justru menjadi penyebar Islam yngg gigih. “Yang ingin saya katakan bisa menjadi kekhawatiran-kekhawatiran kita justru berbuah sebaliknya. Dimana anak-anak kita yang sedang belajar di Polandia dan beberapa negara tersebut, justru menjadi mujahid-mujahid Islam yang akan mengabarkan dan menyebarkan kejayaan Islam di muka bumi Allah ini. Namun juga sebaliknya, ada yang pernah mondok di pesantren terkenal, melanjutkan kuliah di perguruan tinggi Islam di dalam negeri kemudian menjdi ustadz di pondok, menjadi dai penceramah terkenal. Namun akhirnya lari meninggalkan agamanya, bahkan menghujat Islam,” beber putra Sumbawa yang dikenal dengan sebutan Singa Udayana ini.
Menurutnya, program Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah ini mungkin belum sempurna. Karena itu berikan kritikan yang bersifat konstruktif, bukan menyebar momok sehingga beberapa sisi lemah yang mungkin menjadi kekhawatiran dapat ditutupi dan diperbaiki serta disempurnakan bersama. (SR)

Lihat Juga

Wakapolda NTB: PMII Berikan Warna Baru Restorasi Ormas 

MATARAM, SR (5/12/2019) Wakapolda NTB Brigjen Pol Drs. H. Tajuddin, SH., MH., membuka kegiatan PKL ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *