Home / Kesehatan / 953 Warga Sumbawa Alami Gangguan Jiwa, Malas Masuk Kantor Termasuk Penderita
Sekretaris Dikes Sumbawa, Junaidi A.Pt M.Si

953 Warga Sumbawa Alami Gangguan Jiwa, Malas Masuk Kantor Termasuk Penderita

SUMBAWA BESAR, SR (16/11/2018)

Diperkirakan 953 orang di Kabupaten Sumbawa mengalami gangguan jiwa berat. Hal tersebut berdasarkan estimasi Puskesdas Tahun 2013. Jika dibandingkan jumlah penduduk Sumbawa yang mencapai 453.797 jiwa ini, yang mengalami gangguan jiwa hanya 0,21 persen. Demikian diungkapkan Sekretaris Dikes Sumbawa, Junaedi A.Pt M.Si saat ditemui sebelum dimutasi, usai Rapat Evaluasi Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM) di Kantor Bupati Sumbawa, Kamis (15/11) kemarin.

Namun berdasarkan laporan dari puskesmas, ungkap Junaidi, 525 orang mengalami gangguan berat dan mental emosional. Keberadaan orang gila ini hampir merata di seluruh wilayah. Artinya masih tersisa ratusan orang lagi jika berdasarkan estimasi (953 orang) yang harus dicari dan ditemukan melalui kegiatan deteksi dini kesehatan jiwa dari puskesmas atau laporan masyarakat.

Salah satu penanganannya, ungkap Junaidi, selain deteksi dini di Puskesmas, dilakukan pengobatan dan ditangani psikiater. Karena banyak orang gila yang masih berkeliaran, Jun berharap SKPD lainnya seperti Dinas Sosial, Polres, Kodim, Satpol PP, dan Disdukcapil dapat berperan aktif. Sementara Dikes akan menyediakan pelayanan kesehatan atau pengobatan bagi orang yang mengalami gangguan jiwa ini. “Tim TPKJM ini sudah dibentuk tahun 2013 lalu, tapi keberadaannya belum efektif. Artinya kita belum secara bersinergi terlibat. Melalui rapat inilah kami mencoba mengevaluasi. Kita mengharapkan perangkat daerah atau unit-unit lain yang terkait di dalam tim ini untuk bersinergi dan mempunyai komitmen yang sama mengatasi warga yang mengalami gangguan jiwa tapi masih berkeliaran,” jelasnya.

Tujuan dari tim ini adalah meningkatkan kerjasama lintas sektor terkait, termasuk masyarakat dan swasta, LSM, kelompok profesi, dan organisasi masyarakat secara terpadu dan berkesinambungan dalam rangka meningkatkan kesadaran dan kemauan dan kemampuan masyarakat menghadapi kesehatan jiwa sehingga akan terbentuk prilaku sehat sebagai individu keluarga dan masyarakat yang memungkinkan setiap orang hidup lebih produktif secara sosial dan ekonomi.

Ditambahkan Nuraenah S.Sos selaku Kasi Yankestra dan Kesehatan Khusus Dikes Sumbawa didampingi stafnya Diana Sumartini bahwa gangguan jiwa ini berbagai macam. Ada gangguan jiwa berat, seperti hilang kesadaran dan berkeliaran di jalan-jalan. Kemudian ada lagi gangguan mental emosional seperti susah tidur, stress, depresi, malas ke kantor dan suka marah.

Sejauh ini diakui Ena—sapaan akrabnya, penanganan penderita gangguan jiwa dan mental ini masih terkendala beberapa hal. Di antaranya pemahaman atau persepsi terhadap gangguan jiwa belum memadai. Banyak yang menganggap penanganan orang gila hanya dilakukan Dikes, padahal SKPD lain harus memahami bahwa di Sumbawa ada kasus gangguan jiwa yang harus diatasi secara bersama. Kendala lain adalah persoalan anggaran. Ia berharap dari evaluasi ini kendala itu dapat diatasi. Masing-masing SKPD diharapkan dapat menganggarkannya sesuai dengan perannya masing-masing khususnya dalam menangani penderita gangguan jiwa. “Kami berharap masyarakat yang mengalami gangguan jiwa, atau yang terlantar itu kita bisa masukkan ke BPJS, dan tersedianya anggaran yang memadai sehingga mereka kita bisa rawat. Misalnya melalui Dana Bansos di BPKAD atau Dinas Sosial. (JEN/SR)

Lihat Juga

Masih Ada Orang Gila di Sumbawa yang Dipasung

SUMBAWA BESAR, SR (17/11/2018) Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, Junaidi A.Pt M.Si yang dikonfirmasi sebelum ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *