Home / Pendidikan / Agar Murid Mudah Diarahkan, Lima Hal Ini yang Harus Dilakukan

Agar Murid Mudah Diarahkan, Lima Hal Ini yang Harus Dilakukan

Siapa yang tak miris hatinya saat melihat video viral tentang pembullyan murid terhadap gurunya di Kabupaten Kendal. Meskipun hanya candaan, kejadian itu tentu saja menjadi pukulan bagi kita, bukan hanya yang berstatus sebagai pendidik, tetapi semua yang dalam hatinya masih ada hari nurani. Kejadian ini menambah panjang daftar catatan hitam pendidikan kita. Tentu kita belum lupa tragedi yang menimpa Guru Budi beberapa waktu yang lalu. Juga kasus-kasus lain yang sering menimpa guru. Semua rentetan tragedi tersebut memberikan sinyal bahwa pendidikan kita tidak sedang baik-baik saja. Kita harus berani mengakui bahwa banyaknya kasus degradasi moral dari peserta didik merupakan kegagalan dari pendidikan kita. Di balik sederet prestasi dan riuh tepuk tangan, ada hal mendasar yang nyatanya belum terselesaikan. Dengan adanya tragedi Guru Joko dan Guru Budi, sudah sepantasnya sistem pendidikan kita dievaluasi. Tragedi tersebut bukan tiba-tiba muncul tanpa sebab, melainkan akibat dari akumulasi proses pendidikan yang kurang tepat. Setidaknya ada lima hal penting yang tidak boleh dilupakan dalam proses pendidikan, agar murid memiliki akhlak baik seperti yang dicita-citakan.

Menumbuhkan Keimanan Sebelum Pengetahuan
Sudah sepatutnya pendidikan diarahkan sesuai dengan fitrah manusia; belajar untuk mengenal Yang Maha Kuasa. Jika kita lihat kondisi hari ini, murid lebih dituntut memperoleh nilai akademik tinggi, ketimbang mengenal dan mengamalkan sifat-sifat ilahi.  Padahal, ketika keimanan sudah tertancap kuat di dalam dada, anak akan mampu memilah antara yang haq dan batil, sehingga akhlak dan perilakunya bisa terjaga. Selain itu, hati yang telah diterangi cahaya iman akan lebih mudah menerima ilmu pengetahuan, karena segala ilmu pengetahuan sumbernya adalah dari Allah Sang Maha ‘Aliim. Para pelaku pendidikan harus meyakini bahwa akhlak lebih utama dari ilmu. Karena syarat keberkahan ilmu adalah akhlak yang baik. Sehingga yang perlu ditanamkan kuat sejak dini kepada murid adalah akhlaknya. Sebagaimana pesan Imam Malik kepada anaknya “Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu”. Hal ini juga sesuai dengan tujuan utama pendidikan; memanusiakan manusia. Karena sebaik-baik manusia adalah mereka yang baik akhlaknya.

Menunjukkan Keteladanan
Akhlak tak cukup hanya dengan diajarkan, melainkan perlu diteladankan. Salah satu faktor pembentuk akhlak murid adalah lingkungannya, baik lingkungan keluarga maupun lingkungan sekolah. Murid akan lebih mudah melakukan apa yang mereka lihat di lingkungan sekitar ketimbang apa yang mereka dengar. Seorang guru harus memahami bahwa keteladanan adalah sebaik-baik pengajaran. Ketika seorang guru menginginkan muridnya rajin membaca buku, maka ia harus memulainya terlebih dahulu. Ketika seorang guru menginginkan muridnya baik perangainya, maka ia harus terlebih dahulu mencontohkannya. Begitu seterus dan seterusnya. Maka ketika ada
murid yang buruk perangainya, seorang guru yang baik akan lebih memilih instrospeksi diri ketimbang sekadar menghakimi, karena bukan tidak mungkin perangainyalah yang sedang diikuti.

Memotivasi dan Memberi Dukungan
Apa perbedaan mendasar antara dikejar anjing dengan mengejar anjing? Meskipun aktivitasnya sama-sama lari, namun rasanya berbeda. Orang yang dikejar anjing akan mudah merasakan capek dan lelah, meskipun baru lari beberapa langkah. Berbeda halnya saat mengejar anjing. Sejauh apapun berlari, semangat seakan terus terisi. Bahkan belum akan berhenti jika tujuannya belum tercapai. Seorang guru harus mampu menumbuhkan motivasi dalam diri muridnya. Jika murid belajar karena keterpaksaan, mereka akan mudah mencari aktivitas pelarian, akibatnya kelas menjadi tak terkondisikan, hingga guru pun tak lagi dihiraukan. Namun ketika murid belajar karena adanya motivasi kuat dari dalam dirinya, maka ia akan serius menjalaninya. Jika ada murid yang tidak serius mengikuti pelajaran, sesekali boleh direnungkan, jangan-jangan gurunya yang kurang memotivasi dan terasa membosankan. Selain motivasi, yang juga teramat penting bagi murid adalah dukungan. Guru adalah teman
murid bertumbuh dan berkembang, dan penopangnya adalah dukungan. Saat murid melakukan kebaikan, hendaknya guru mendukungnya agar terus berkelanjutan. Jika murid melakukan kesalahan, ia juga perlu dukungan. Dukungan yang mampu mengembalikannya pada kesadaran dan kebaikan.

Adil dan Sabar Dalam Memberi Pengarahan
Tantangan terbesar bagi seorang guru adalah mampu bersikap adil terhadap muridnya. Dalam sebuah komunitas sekolah atau kelas, ada murid yang cepat dalam menangkap pelajaran, ada juga yang pelan. Ada murid yang berperangai baik, ada juga yang kurang baik. Kenyataan yang sering terjadi, murid yang pintar dan berperangai baik cenderung sering mendapat pujian yang kadang sampai berlebihan, sementara yang lambat dan berperangai kurang baik sering mendapat teguran atau bahkan hukuman. Jika sudah demikian, maka yang muncul adalah kecemburuan, perasaaan tidak senang, hilangnya perhatian, hingga sikap perlawanan. Di sinilah sering menjadi awal mula guru dan murid terlibat perseteruan.  Maka yang dibutuhkan adalah sikap adil guru dalam setiap
perkataan dan tindakan.  Adil dan sabar adalah dua hal yang saling berkaitan. Seorang guru akan sulit berlaku adil jika tidak dibarengi dengan kesabaran. Dalam menghadapi murid yang berperangai kurang baik misalnya, seorang guru hendaknya sabar dalam memberikan pengarahan, bukan menjudge dan menghujaninya dengan celaan. Ketika memberi teguran, hendaknya dengan kelembutan dan didasari rasa kasih sayang, dengan niat untuk meluruskan. Tentu saja ini tidak semudah yang dibayangkan. Diperlukan kesabaran yang luasnya tak bertepian.

Ikhlas dan Selalu Mendoakan
Pangkal yang sekaligus ujung dari pengabdian seorang guru adalah keikhlasan. Ikhlas adalah kunci untuk mendapat keridhoan, sehingga upaya guru dalam mendidik muridnya bisa menemui kemudahan. Jika semua didasari dengan keikhlasan, semoga Allah akan membantu mengarahkan murid kepada jalan kebaikan. Dan yang tidak kalah penting, hendaknya guru selalu mendoakan kebaikan bagi murid-muridnya. Barangkali ini yang sering terlupakan. Jika hari ini ada murid yang prestasi dan perangainya tidak sesuai harapan, pertanyaannya adalah sudah seberapa sering gurunya mendoakan? Sekuat apapaun manusia berusaha, Allah-lah yang memutuskan. Maka,memohon kepada-Nya adalah sebuah keniscayaan.

Kelima hal di atas hakikatnya tidak hanya ditujukan bagi  guru di sekolah, melainkan juga untuk guru di rumah, yakni orangtua. Orangtua adalah guru pertama bagi anak-anak, jauh sebelum mereka mengenal sekolah. Maka dalam membentuk akhlak anak diperlukan kerjasama yang baik antara orangtua dan sekolah. (*)

*Pradila Maulia – Strategic Partnership Dompet Dhuafa Pendidikan

Lihat Juga

Gubernur : Keluar Negeri Perjalanan Mengenal Diri Sendiri

SUMBAWA BESAR, SR (09/12/2018) Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah menghadiri kegiatan Launching Samawa Cendikia Language ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *