Home / Kesehatan / OPINI: Identifikasi DNA Korban Lion Air JT610

OPINI: Identifikasi DNA Korban Lion Air JT610

Oleh: Mochammad Isro Alfajri, S.Biotek. 

(Lulusan Fakultas Bioteknologi Universitas Teknologi Sumbawa, dan Research Student di Pusat Laboratorium Forensik Mabes POLRI Tahun 2016)

Tragedi JT 610, pukulan besar bagi dunia penerbangan di Indonesia. Kecelakaan transportasi massal di era perkembangan teknologi yang pesat juga berimbas dengan lebih besar dampak yang akan dihasilkan ketika terjadi suatu kejadian. Adalah dampak terhadap kondisi dan identifikasi korban yang akan lebih sulit dilakukan. Pada kasus ini lokasi para korban berada di perairan laut terbuka dengan banyaknya puing puing pesawat yang membuat pencarian korban terasa lebih sulit.

Mengutip pernyataan Tim DVI dalam identifikasi korban menggunakan metode pengenalan sidik jari, Antem Mortem, dan Post Mortem (DNA). Namun dalam hal ini semua metode memiliki keterbatasan dalam identifikasi para korban yang telah ditemukan. Identifikasi korban berdasarkan sidik jari hanya dapat dilakukan ketika kondisi kode sidik jari korban dapat dibaca oleh alat fingerprint identification yang dimiliki oleh INAFIS (kondisi ibu jari korban harus dalam keadaan baik). Pada kondisi seperti ini banyak korban yang tidak dapat dibaca dengan pengenalan kode sidik jari. Hal ini sangat wajar terjadi karena bagian atau organ tubuh akan lebih cepat rusak ketika berada di bawah laut dengan kondisi garam yang tinggi, arus gelombang yang kuat dan keberadaan plankton/mikroorganisme yang dapat mempercepat kerusakan pada bagian tubuh korban. Sedangkan untuk identifikasi korban menggunakan Antem Mortem, hanya dapat dilakukan ketika pakaian atau tanda tanda khusus (seperti tato) masih melekat pada tubuh korban. Identifikasi ini menggunakan perbandingan antara video CCTV pada Bandara dengan kondisi korban yang telah ditemukan. Kemudian dilakukan pencocokan secara kasat mata tanpa adanya identifikasi ilmiah lainnya. Identifikasi ini dapat mempersingkat waktu identifikasi dengan hasil yang akurasi yang cukup baik, dengan pengenalan tato (jika ada) pada tubuh korban. Namun tidak semua korban memiliki tanda ini.

Identifikasi korban merupakan hal yang perlu dilakukan dengan cepat namun dengan tingkat akurasi yang tinggi. Dua hal yang diperlukan diperhatikan dalam identifikasi korban disaster victim investigation. Sehingga pada kasus ini kita dapat menggunakan metode identifikasi yang ketiga yakni dengan menggunakan identifikasi/pencocokan DNA berdasarkan profil DNA yang kita dapatkan pada korban dan pembanding. Teknik ini dikenal dengan Teknik DNA Profiling atau DNA typing, dua istilah yang merujuk pada satu makna. Yakni dengan mencocokan jumlah munculnya sifat genetik DNA pada 16 marka (pengenal) atau lebih yang digunakan dan dikenal di masyarakat dengan istilah “Test DNA”.

Identifikasi ini merupakan aplikasi dari ilmu Bioteknologi. Saya sendiri pernah melakukan penelitian tentang topik ini selama beberapa bulan di Pusat Laboratorium Forensik Mabes Polri. Topik ini pun pernah menjadi bahan presentasi saya di Konferensi Internasional Keilmuwan Biologi yang diadakan UGM pada Tahun 2017 lalu (International Conference on Biological Sciences) dan dipublikasi di jurnal ilmiah internasional terindeks scopus (indeks tertinggi publikasi ilmiah).

Sekarang saya akan menjelaskan secara garis besar proses identifikasi yang sedang berlangsung oleh Tim DVI di Jakarta, berdasarkan update informasi yang saya dapatkan di media nasional baik online atau pun offline (media cetak). Di Indonesia, proses identifikasi DNA bisa dilakukan paling cepat 2 hari. Namun pada konferensi Pers, tim DVI mengatakan teknologi mutakhir saat ini paling cepat adalah 4 hari. Hal ini tidak salah, ada kemungkinan tim identifikasi mempertimbangkan cukup sulitnya recovery DNA dan kondisi tubuh tubuh korban yang berada di laut. Dimana DNA rantai gabda DNA dapat dengan mudah mengalami kerusakan akibat kondisi garam yang begitu tinggi sehingga profil DNA yang dihasilkan tidak utuh (dalam identifikasi, kesamaaan atau homologitas antara korban dan pembanding harus menghasilkan full profil DNA). Full profil DNA yakni dimana, dari salah satu bagian tubuh korban kita dapatkan lengkap 16 mark STR (tergantung berapa marka yan digunakan tim identifikasi teknologi mutakhir saat ini adalah 24 marka STR).

Seperti kita ketahui bahwa sumber DNA dapat berasal dari seluruh tubuh kita dengan hasil yang sama. Pada kasus JT 610 korban yang ditemukan dalam waktu rentang yang cukup lama berbanding lurus dengan rendahnya kualitas DNA yang akan didapatkan. Pada kasus ini, saya memperkirakan bahwa bagian tubuh yang digunakan untuk menjadi sumber DNA adalah Tulang (organ tubuh lain tetap ada kemungkinan bisa, namun untuk menghasilkan full profil DNA masih belum dapat dipastikan tingkat keberhasilannya).

Tulang merupakan bagian tubuh yang dilindungi oleh material yang keras (solid) sehingga dapat melindungi kandungan DNA dengan cukup baik (DNA lebih stabil dan tidak mengalami degradasi). Namun, ada alasan lain juga metode ini jarang dipilih selain banyaknya inhibitor yang terkandung, yakni merupakan salah satu metode tersulit dalam merecovery DNA. Karena terdapat Inhibitor (penghambat reaksi) yang terkandung di dalam tulang tersebut yakni fulvic, asam humik, tannin, senyawa fenol dan ion kompleks (besi) yang dapat menjadi kontaminan dalam reaksi. Dan membutuhkan waktu identifikasi yang lebih panjang dibandingkan dengan sampel berupa darah, rambut, daging, saliva, atau semen. Karena pada tulang membutuhkan proses pre-treatment yang membutuhkan waktu dua hari sebelum dilakukannya proses ekstraksi DNA.

Pada umumnya DNA typing memiliki empat tahap yakni ekstraksi DNA (meng-ekstrak kandungan DNA dari sumber biologis seperti tulang, darah, rambut, dan sumber lain), kemudian kuantifikasi DNA yakni proses untuk menentukan kualitas DNA yang didapatkan, proses selanjutnya yakni proses amplifikasi DNA (Perbanyakan DNA, perlu diketahui bahwa jumlah DNA yang didapatkan pada kasus seperti ini sangat sedikit, sehingga diperlukannya proses perbanyakan DNA secara sintetik menggunakan sistem multikpleks Polymerase Chain Reaction (PCR), dan tahap terakhir ada analisis STR yang akan mengeluarkan hasil berupa Profil DNA.

Analisis STR menggunakan alat yang hanya ada beberapa di Indonesia (setahu saya hanya ada 2 di Indonesia) dengan harga yang sangat mahal. Alat ini memiliki fungsi krusial dalam proses DNA typing.

Hasil dari analisis STR disebut juga elektroforegram yang memberikan informasi jumlah alel yang muncul pada 16 marka STR yang digunakan atau lebih singkat kita sebut dengan full profil DNA apabila 16 STR lengkap dibaca. Pada proses identifiksi paternitas seperti ini membutuhkan dua sampel pembanding yakni orang tua korban yang mewariskan sifat DNA, korban. Kemudian dilakukan pencocokan dari hasil profil DNA. Ataupun juga dapat menghitung nilai Presentase Probabilitas (P) dengan sebelumnya diketahui nilai Paternitiy Index (PI) dan Likelihood Ratio (LR), apabila hasil perhitungan menunjukkan 99,9% maka dapat disimpulkan bahwa korban adalah anak dari orang tua tersebut (yang memberikan sampel pembanding).

Jadi, keseluruhan proses adalah 4 hari jika menggunakan sampel tulang, dan apabila tidak menggunakan sampel tulang waktu yang dibutuhkan akan lebih singkat. Untuk diketahui bahwa teknologi yang dimiliki di Indonesia saat ini bahkan dapat mengidentifikasi DNA dengan hanya membutuhkan waktu 2 jam tapi dengan catatan sampel biologis harus masih segar atau dalam keadaan baik, pada kasus JT-610 kondisi seperti ini tidak terpenuhi. (*)

 

Lihat Juga

AP2SB Dorong RSUD Asy Syifa Inisiasi Bangun Rumah Singgah

KERJASAMA SAMAWAREA DENGAN RSUD ASY-SYIFA KABUPARTEN SUMBAWA BARAT SUMBAWA BARAT, SR (16/11/2018) Organisasi Aliansi Pemberdayaan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *