Home / Pendidikan / Hasil Survey My Institute: Anak Muda Versus Orang Tua di Pemilu 2019
Direktur MI, Miftahul Arzak, S.Ikom., MA

Hasil Survey My Institute: Anak Muda Versus Orang Tua di Pemilu 2019

SUMBAWA BESAR, SR (15/08/2018)

Lembaga Penelitian dan Survei MY Institute melakukan survei politik pada periode Juni-Agustus 2018 yang bertema “Penilaian Masyarakat NTB terhadap sosok calon legislatif yang akan bertarung pada pileg 2019 mendatang”. Survei ini menggunakan Metode Multistage Random Sampling dengan Margin of Error 2,6%, tingkat kepercayaan 95% dan mendapatkan 1200 responden yang tersebar di seluruh Kabupaten/Kota se-Nusa Tenggara Barat.

Pada survei kali ini, MY Institute merilis terkait penilaian dan penerimaan masyarakat NTB terhadap sosok calon legislatif berdasarkan status usia. Status usia dinilai oleh masyarakat NTB selalu dikaitkan dengan pengalaman calon-calon yang akan berlaga pada April 2019 mendatang. Pembicaraan tentang status usia, terutama terkait anak muda dan orang tua mulai senter dibicarakan sejak beberapa pekan ini. Terutama ketika mencuat nama Sandiaga Salahuddin Uno sebagai Bakal Calon Wakil Presiden mendampingi Prabowo Subianto dan nama KH. Ma’ruf Amin yang mendampingi Ir H. Joko Widodo pada pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2019 mendatang. Nama keduanya selalu dibanding-bandingkan, terutama terkait status usia. Sandiaga Uno yang dikaitkan dengan sosok politisi muda nan enerjik selalu dibandingkan dengan sosok Ma’ruf Amin yang lebih tua dari dirinya.

Pembicaraan tentang anak muda dan orang tua inipun semakin menarik jika ditarik pada Pemilihan Legislatif 2019 mendatang. Hingga kini, nama-nama Bakal Calon Legislatif dari tingkat daerah hingga RI di wilayah NTB telah digodok oleh Komisi Pemilihan Umum NTB maupun di daerah-daerah. Beberapa nama nama bakal calon telah tersiar di beberapa media sosial. Terlebih dari beberapa calon legislatif banyak muncul nama-nama baru dari berbagai partai politik. Diantaranya ada yang membawa gagasan anak muda dan ada juga yang memang masih tergolong muda secara usia.

Untuk diketahui, kategori anak muda (dewasa awal-dewasa akhir) menurut Kementerian Kesehatan RI (2009) berada pada rentang umur 26-45 tahun. Sosok anak muda yang baru saja terjun di dunia politik dan baru mengikuti kontestasi perpolitikan di tingkat daerah maupun di nasional dianggap masih minim pengalaman oleh sebagian masyarakat NTB. Inilah yang akhirnya menjadi titik acuan masyarakat menilai bahwa sosok orang tua selalu dikait-kaitkan dengan sosok yang lebih berpengalaman di dunia politik sehingga lebih mudah diterima oleh pemilih. Sedangkan sosok anak muda yang baru terjun pada dunia politik pada Pileg 2019 mendatang masih kurang diminati masyarakat NTB. “Kami dari MY Institute mencoba menyorot penilaian masyarakat NTB terkait status usia yang selalu dikaitkan dengan pengalaman calon legislatif. Ini menarik, terlebih momentum pergerakan anak muda telah terdengar dari seluruh penjuru Indonesia di bidang politik sejak dahulu,”  kata Miftahul Arzak, S.Ikom., MA selaku Direktur MY Institute kepada SAMAWAREA, Rabu (15/8)

Menanggapi penilaian masyarakat, Mifta–sapaan akrabnya, secara pribadi menganggap ini tidaklah linear. Anak muda tidak bisa seratus persen kita anggap tidak berpengalaman dari calon-calon yang lebih tua dari mereka secara usia. Terutama sejarah Indonesia mencatat, beberapa tokoh kemerdekaan umur-umurnya di bawah 45 tahun dan mereka sudah mampu membawa Indonesia ke gerbang kemerdekaan. Namun, para calon legislatif dari golongan anak muda harus memahami bahwa inilah realitas dan penilaian di masyarakat. Kini, menjadi tantangan bagi calon legislatif dari kelompok muda, siap memperkenalkan dirinya di publik atau berdiam diri melihat realitas survei bahwa mereka masih susah diterima oleh masyarakat. (SR)

Lihat Juga

9 Siswi SMAN 1 Plampang Keracunan

SUMBAWA BESAR, SR (16/11/2018) Jajaran SMA Negeri 1 Plampang, Jumat (16/11) tadi diliputi kepanikan. Pasalnya ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *