Home / MATARAM / Hipotesis Pilkada NTB yang Tak Terbukti ?
Sambirang Ahmadi S.Ag., M.Si

Hipotesis Pilkada NTB yang Tak Terbukti ?

Oleh: Sambirang Ahmadi, S.Ag., M.Si (Koordinator Tim Relawan Zul Rohmi Kabupaten Sumbawa)

Pilkada serentak telah selesai. Dengan metode quick count yang canggih, siapa pemenang di setiap daerah sudah bisa diketahui. Jika dilihat hasilnya, yang keluar sebagai pemenang di berbagai daerah sebagian besar adalah sesuai prediksi yang dirilis lembaga-lembaga survey yang kredibel, setidaknya dua  minggu sebelum Pilkada berlangsung. Hasil Pilkada Provinsi NTB termasuk yang cukup menarik. Pemenangnya ternyata bukan dari figur yang merepresentasikan entitas politik terbesar di NTB: Sasak-Lombok.

Mengapa ini menarik ?

Pertama, hasil ini membantah hipotesis politik yang mengatakan bahwa “Pilkada NTB akan tetap dimenangkan figur calon gubernur (Cagub) dari etnis terbesar Sasak-Lombok”. Hipotesis ini wajar berkembang karena menggunakan pendekatan populasi dimana 2/3 pemilih ada di Pulau Lombok. Di samping itu, penduduk NTB mayoritas etnis Sasak yang sebarannya cukup merata di 10 kabupaten/kota”. Hipotesis ini akhirnya tak terbukti dengan terpilihnya Dr. H. Zulkieflimansyah SE., M.Sc (Bang Zul) sebagai pemenang Pilkada.

Kedua, hasil Pilkada ini membantah hipotesis yang mengatakan bahwa “Posisi Calon Wakil Gubernur tidak menarik bagi pemilih Pulau Lombok yang mayoritas”. Terbukti Rohmi mampu meraup suara paling banyak dibanding Cawagub lainnya di basis elektoralnya.

Ketiga, hasil Pilkada ini memperkuat hipotesis politik yang mengatakan bahwa “Pilkada NTB akan tetap dimenangkan oleh figur Cagub yang didukung penuh oleh ormas Nahdatul Wathon (NW) walau bukan dari Pulau Lombok”. Meskipun NW kenyataannya terbelah menjadi dua faksi, Pancor dan Anjani, tapi faksi terbesar dan tampak selalu solid dalam afiliasi politik saat Pilkada adalah NW Pancor. Terbukti di tiga momentum Pilkada langsung, figur dari rahim NW Pancor selalu menang. Dengan demikian, hipotesis ini benar adanya.

Kunci Kemenangan Bang Zul

Majunya Bang Zul sebagai Cagub NTB dianggap oleh sejumlah elit politik dan pengamat sebagai “mission impossible”. Itulah sebabnya Bang Zul diposisikan sebagai underdog. Pandangan under estimate ini datang dari kalangan konservatif yang tidak mempertimbangkan variabel Rohmi dan NW sebagai pendulang suara. Mereka berpendapat bahwa pemilih asal Sasak-Lombok akan cenderung memilih Cagub yang seidentitas dengannya. Sebetulnya ini tidak salah, tapi karena tidak menghitung Rohmi dan NW sebagai variabel pendulang suara yang penting di Pulau Lombok, akhirnya persepsi ini keliru.

Lalu apakah faktor kunci kemenangan Bang Zul ?

Setidaknya ada tiga faktor kunci. Pertama, kemampuannya memikat hati TGB, Rohmi dan ormas NW-nya. Inilah modal utama Bang Zul yang akhirnya menarik hati PKS dan Demokrat. Sebagai politisi yang akademis, Bang Zul telah menghitung betul langkah politiknya berbasis pemahaman yang mendalam tentang peta psikologis dan sosiologis pemilih NTB. Rupanya hipotesis politik yang ketiga itulah yang menjadi pintu keyakinan Bang Zul berlabuh di Pilkada NTB.

Kedua, Bang Zul datang ke NTB dengan karya nyata. Meski lama di DPR RI dari Provinsi Banten, tapi kemampuannya menghadirkan perguruan tinggi (UTS, IISBUD, AKOM) dan sekolah-sekolah bermutu di Sumbawa, menjadi pemikat hati pemilih Pulau Sumbawa secara signifikan. Pemilih Pulau Sumbawa berpandangan bahwa Bang Zul memiliki “personal power” yang tersirat dari kemampuannya mengkonversi sesuatu yang tampak mustahil (impossible) menjadi mungkin (possible) baginya, seperti membangun Perguruan Tinggi yang kompetetif secara nasional dalam tempo yang sangat singkat. Ada himpunan keyakinan bagi pemilih Sumbawa bahwa Bang Zul dengan ide, pengalaman dan networking-nya yang luas akan mampu menarik dan memobilisasi berbagai sumberdaya di Jakarta ke NTB.

Ketiga, Bang Zul bersahabat akrab dengan semua komunitas lintas profesi, etnik dan budaya, terutama dengan komunitas Pacuan Kuda. Itulah salah satu modal sosialnya yang terbukti efektif menjadi jembatan komunikasi yang membuka akses Bang Zul ke akar rumput di seluruh pelosok NTB.

Percobaan yang Gagal

Pilkada kali ini juga menarik karena diikuti calon independen dengan komposisi Sasak-Sasak (Ali-Sakti). Ternyata komposisi ini tidak berhasil mendulang suara signifikan, terutama di Pulau Sumbawa, karena dianggap mereduksi keterwakilan wilayah. Hasil ini mengisyaratkan bahwa figur pemimpin NTB harus tetap merepresentasikan keterwakilan dua wilayah/pulau: Lombok-Sumbawa atau sebaliknya. Wallahu’alam. (*)

Lihat Juga

HBK Jenguk Warga Penderita Lumpuh dan Polio

MATARAM, SR (01/12/2018) Caleg DPR RI  Partai Gerindra Nomor Urut 1, dari Dapil NTB-2/ Pulau ...

One comment

  1. Paparan analisis ilmiah yg mudah dipahami oleh pak Sambirang. !!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *