Home / HukumKriminal / Hasil Ujilab, Penyakit Aneh yang Menyerang Warga Langam Ternyata Skabies

Hasil Ujilab, Penyakit Aneh yang Menyerang Warga Langam Ternyata Skabies

Akibat Sanitasi yang Buruk

SUMBAWA BESAR, SR (16/04/2018)

Masih ingat penyakit “aneh” yang menyerang sejumlah warga di Desa Langam Kecamatan Lopok, Kabupaten Sumbawa ? Munculnya penyakit dengan gejala gatal-gatal dengan kulit bernanah ini sempat membuat panik warga setempat. Sebab penyakit ini cepat menular hanya dengan bersentuhan fisik, pakaian dan lainnya. Untuk memastikan nama dan penyebab penyakit tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa sudah mengantongi hasil ujilab di Laboratorium Kesehatan, Mataram.

Kadis Kesehatan Sumbawa, Drs. H. Nazaruddin M.Pd didampingi Sekretaris Dikes Junaidi A.Pt M.Si, Kabid Pencegahan Pengendalian dan Penyehatan Lingkungan Agung Riyadi dan Kabag Humas Setda Sumbawa M. Lutfi Makki S.Pd M.Si dalam keterangan persnya, Senin (16/4) menyebutkan hasil pemeriksaan dan ujilab ini memastikan ada 14 orang warga di Desa Langam didiagnosa menderita penyakit Skabies dengan diagnosa bandingnya yaitu dermatitis kontak alergi yaitu penyakit yang penularannya melalui perantaraan tungau atau kutu busuk (Bahasa Sumbawa disebut Tuma). Namun yang paling khas gejala Skabies terlihat pada tubuh Haji NB, sehingga sebelumnya Dikes menyimpulkan bahwa kasus yang terjadi saat itu hanya menimpa satu orang. Tapi setelah dicek secara menyeluruh ternyata penderita Skabies ini mencapai 14 orang. “Jadi tidak ada penyakit aneh atau misterius yang sebelumnya sempat dipublikasikan. Penyakit ini pernah terjadi puluhan tahun yang lalu, dan setahun lalu pernah menyerang warga di salah satu desa lainnya. Penyakit ini secara medis dinamakan Skabies,” aku Haji Nazaruddin—sapaan akrab Kadis Kesehatan.

Penyakit Skabies ini timpal Agung Riyadi, merupakan penyakit kulit menular yang bersifat zoonosis dan disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei. Penyakit ini tersebar luas di seluruh dunia terutama pada daerah-daerah yang erat kaitannya dengan lahan kritis, kemiskinan, rendahnya sanitasi dan status gizi, baik pada hewan maupun manusia. Penularan skabies terjadi melalui kontak langsung. Akibat infestasi tungau pada kulit menyebabkan rasa gatal yang hebat sampai timbulnya eritrema, papula dan vesikula hingga terjadi kerusakan kulit, bahkan pada kasus yang parah dapat menyebabkan kematian khususnya pada hewan. Sebanyak 300 juta orang per tahun di dunia dilaporkan terserang skabies. Diagnosis skabies dilakukan dengan melihat gejala klinis yang dikonfirmasi dengan ditemukannya telur, feses, dan tungau pada kerokan kulit penderita. Selain itu, dapat juga dideteksi keberadaan terowongan di bawah kulit dengan uji tinta, minyak mineral atau uji flourescence tetracycline.

Terkait dengan Skabies yang menyerang belasan warga Langam, Agung mengaku sempat muncul dugaan akibat terpapar mercuri dari aktivitas tambang emas yang marak terjadi di daerah tersebut beberapa  waktu lalu. Pihaknya pun langsung mengambil sampel air untuk diperiksa kandungannya melalui ujilab. Hasil pemeriksaan laboratoriumnya (menggunakan laboratorium balai pengujian material konstruksi, Dinas PUPR Provinsi NTB) menunjukkan kadar merkuri di 10 lokus sampel yang diambil berada di bawah ambang batas yakni sebesar antara 0,0001 mg/l–0,0009 mg/l. Artinya penyakit gatal-gatal yang menyerang warga karena terpapar mercury. “Kadarnya masih di bawah ambang yang dibolehkan keberadaannya di air yakni 0,001 mg/l,” imbuhnya.

Hasil pemeriksaan parameter lainnya sambung Agung, dilakukan terhadap sampel air di kediaman Haji NB. Terungkap parameter coliformnya yang cukup tinggi yakni sebesar 35.000 mpn/100 ml (baku mutunya yang dibolehkan adalah 10 mpn/100 ml). Coliform itu menunjukkan bahwa telah terjadi pencemaran air yang disebabkan oleh kotoran hewan ternak maupun proses pembusukan tanaman. Coliform yang cukup tinggi ini menunjukkan sanitasinya buruk. “Jadi disimpulkan penyakit Skabies ini muncul karena sanitasi yang buruk, di samping karena personal higienis (kebersihan perseorang) dan lingkungannya,” tandasnya.

Untuk menangani masalah tersebut, Dikes telah mengirim obat-obatan kepada penderita melalui Puskesmas. Selain itu menggiatkan penyuluhan. Dalam penyuluhan itu, pihaknya menekankan tentang kualitas kesehatan lingkungan yang harus diperbaiki. Kemudian menghindari penularan Skabies melalui kontak fisik, handuk, baju yang dicuci dan disterika bersama dengan pakaian penderita. “Intinya dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat, masyarakat akan terhindar dari penyakit,” pungkasnya. (JEN/SR)

 

Lihat Juga

Dibantai di Sawah, Seorang Petani Tewas Bersimbah Darah

SUMBAWA BESAR, SR (24/04/2018) Patacora (55) ditemukan tewas bersimbah darah di pematang sawah, Orong Tengah, ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *