Home / Ekonomi / Pusat Studi Perikanan dan Kelautan UTS diresmikan

Pusat Studi Perikanan dan Kelautan UTS diresmikan

SUMBAWA BESAR, SR (11/04/2018)

Sumber daya perikanan dan kelautan Kabupaten Sumbawa memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Dengan luas 3 kali lebih besar dari Pulau Lombok, Sumbawa memberikan konstribusi sekitar 54% produksi perikanan di NTB. Hal ini disampaikan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Sumbawa, Ir. Dirmawan dalam Seminar Ketahanan Pangan Berbasis Perikanan dan Kelautan sekaligus peresmian Pusat Studi Perikanan dan Kelautan Universitas Teknologi Sumbawa (UTS), Senin (9/4) lalu.

Selain memaparkan potensi-potensi yang ada di Sumbawa, Dirmawan juga menyebutkan jumlah nelayan yang mencapai 10.100 orang yang sudah dinaungi asuransi nelayan, potensi Perikanan Sumbawa sudah menunjukkan geliat perkembangan yang signifikan dalam berbagai hal. Salah satunya dalam produksi udang di Sumbawa yang mencapai 9.000 ton jika dibandingkan dengan tahun 2002 yang hanya mampu memproduksi 2.000 ton. Bahkan untuk memastikan keberlanjutan tersebut, pemerintah juga tengah mengupayakan pembudidayaan udang organik dan siap memfasilitasi mahasiswa-mahasiswa yang ingin mendapatkan pelatihan program tersebut. “Apa yang dilakukan UTS dengan meresmikan Pusat Studi Perikanan dan Kelautan ini sama dengan apa yang diinginkan oleh Pak Dahlan Iskan, jadi selamat. Dan kami siap memfasilitasi mahasiswa-mahasiswa untuk pelatihan udang organik yang saat ini sedang diprogramkan,” ucapnya saat memberikan sambutan sekaligus melakukan penyerahan buku-buku Perikanan.

Kemudian dalam hal pengembangan, lanjut Dirmawan, Sumbawa juga akan terlibat memenuhi kebutuhan Garam Indonesia yang mencapat 4 juta ton per tahun. Sumbawa akan ambil bagian dalam program integrasi lahan yang diprogramkan pemerintah 2019 mendatang. Hal ini disebabkan kebutuhan garam Sumbawa masih diimport dari Bima. Sumbawa menargetkan sekitar 70 hektar lahan akan digunakan sebagai pengelolaan lahan menjadi tempat penghasil garam. Dengan estimasi hasil sebelumnya yang hanya 30-40 ton perhektar diharapkan menjadi 100 ton per hektar. “Saat ini kita masih mengimpor garam dari Bima, saat ini masih memproduksi 1.700 ton garam karena terkendala hujan. Untuk tempat, Sumbawa akan menyediakan gudang garam dengan kapasitas 2000 ton yang akan dilaksanakan oleh koperasi dan akan online. Jadi, produksi garam di Sumbawa dapat terus dipantau,” jelasnya.

Berkaitan dengan infrastruktur, jelasnya, jika kelautan Sumbawa ingin maju, kelancaran distribusi juga harus didukung sarana dan prasarana transportasi. Pertama harus lancar melalui darat, misalnya rumput laut di Tanjung Bele. Jalan ke sana harus memadai sehingga distribusi bisa dilakukan bila perlu selama 24 jam ke semua sentral produksi. Transportasi laut juga harus diperhatikan guna penyaluran, begitu juga udara, ditargetkan minimal terjadi 5 kali penerbangan dalam sehari. “SDM juga harus dipersiapkan, karena sebentar lagi kami yang tua-tua ini akan pensiun,” ujarnya ramah.

Sedangkan potensi Perikanan dan Kelautan Sumbawa lain yang perlu dikembangkan salah satunya Teluk Saleh yang merupakan aquarium dunia dengan luas sekitar 1.400 m2. Sejak dua tahun lalu, Teluk Saleh telah diusulkan menjadi kawasan ekonomi maritim yang sebelumnya pernah didorong menjadi kawasan ekonomi khusus.

Hal senada dikatakan Anggota komisi II DPRD Sumbawa, Salamuddin Maula. Politisi PKS ini memaparkan bahwa potensi Teluk Saleh yang mencapai angka Rp 38 triliun tersebut seyogyanya dapat dikelola dengan maksimal dan menjadi pendapat terbesar Sumbawa jika hanya dibandingkan dengan APBD yang hanya Rp 1,7 Triliun. Jalo–sapaan akrabnya juga mengharapkan dengan adanya seminar dan peresmian pusat studi tersebut minimal bisa menghasilkan rekomendasi yang akan diberikan ke pemerintah daerah bagaimana perikanan Sumbawa ke depannya. Menurutnya, Sumbawa yang sempat kehilangan arah, dengan seminar tersebut membantu kembali Sumbawa agar lebih terarah. “Dengan potensi yang sudah ada, dengan keberadaan UTS semoga akan selalu memberikan pencerahan dan masukan kepada pemerintah Sumbawa dan masyarakat,” ucapnya.

Dalam kesempatan itu Jalo menyinggung peluang perikanan lainnya seperti pembudidayaan Ikan Lele. Budidaya ini harus dibarengi dengan kesediaan pemerintah membantu masyarakat memfasillitasi semua aspek pendukung termasuk pakan dan pemasarannya. Ia menginginkan minimal 2019 ini harus ada penganggaran produk pakan khusus ikan air tawar di Sumbawa dengan membuka peluang kerjasama dengan UTS, sehingga kerjasama tersebut tidak sebatas seminar tetapi terus berkelanjutan sehingga pemerintah, masyarakat, dan lembaga pendidikan tetap sejalan. “Mungkin kita bisa menyediakan anggaran APBDP maupun APBD murni dan saya akan goal-kan itu, yang akan diberikan ke UTS untuk menghasilkan pakan ikan khusus Lele. Sehingga kita tidak lagi kesulitan,” tegasnya.

Keseriusan Jalo mendukung program UTS tersebut juga akan dibicarakan di DPRD dan mencoba memberikan bantuan-bantuan, khususnya untuk pengembangan pakan Lele dengan menyediakan anggaran-anggaran dari APBDP maupun APBDP murni yang sesuai dengan kebutuhan. “Potensi yang luar biasa jika dikelola dan didukung secara maksimal bisa menghidupkan banyak kepala rumah tangga. UTS harus memulainya,” tandas sosok yang dikenal tegas ini.

Di tempat yang sama, Wakil Rektor III UTS, Win Ariga Mansour Malonga mewakili Rektor UTS menambahkan pusat studi itu nantinya akan menjadi tempat belajar bersama dan berharap dapat berkolaborasi membangun perikanan yang memiliki potensi sangat besar. Dengan adanya akademisi dan praktisi yang terlibat, pusat studi tersebut diharapkan mampu mendongkrak nilai perikanan yang ada di Sumbawa. Kendala pakan yang saat ini menjadi masalah besar yang dihadapi pembudidaya ke depannya harus bisa diatasi oleh pusat studi tersebut.

Keberadaan pusat studi tersebut juga menjadi media untuk saling bekerjasama dan berkolaborasi, baik masyarakat, akademisi, dan pemerintah daerah yang bertujuan agar masyarakat Sumbawa sejahtera, menciptakan peluang usaha dan membuka lapangan kerja. “Karena ada indikasi selama ini masyarakat kita tidak berani membudidaya dan lain-lain karena kurangnya pemahaman, keilmuan, maupun perangkat yang mendukung kegiatan tersebut. Ini suatu bentuk usaha dari UTS, berusaha membantu memecahkan permasalahan dan mencari solusi terutama pada pembudidaya ikan atau pelaku usaha produksi perikanan lainnya untuk memiliki daya saing yang cukup bagus,” imbuhnya.

Hadir pula sebagai pembicara dalam seminar tersebut Dr. Arief Budi Witarto, M.Eng selaku Direktur Saint Technopark Sumbawa yang memaparkan mengenai program Inovasi Kelautan dan Perikanan di STP, Pemenang dana hibah Calon Pengusaha Pemula Berbasis Teknologi (CPPBT) Dikti, Anni Nuraisyah S.TP., M.Si. yang saat ini membuat suplemen organik untuk meningkatkan hasil perikanan, dan praktisi pembudidaya Lele, Sapriadi yang juga Petani Lele Desa Pernek, Moyo Hulu yang memaparkan tentang peluang dan masalah budidaya Lele. (SR)

Lihat Juga

TAGANA Beraksi Renovasi Rumah Perawan Tua

LOMBOK TENGAH, SR (24/04/2018) Ma’nah wanita paruh baya berumur 55 tahun kini tidak lagi memiliki ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *