Home / Ekonomi / Kemenristek Dikti Hargai Suplemen Daun Kelor UTS 256 Juta

Kemenristek Dikti Hargai Suplemen Daun Kelor UTS 256 Juta

SUMBAWA BESAR, SR (11/04/2018)

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) melalui penelitian Rumah Lele: Budi Daya Lele Intensif Sistem Bioflok Berbasis Microbuble dan Suplemen Organik yang dilakukan Dosen Fakultas Teknologi Pertanian, berhasil menjadi salah satu dari 81 lembaga yang ditetapkan sebagai Penerima Pendanaan Program Calon Pengusaha Pemula Berbasis Teknologi (CPPBT) dari Perguruan Tinggi yang dibiayai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun 2018.

Ketua LPPM UTS Sahri Yanti, M.Sc. mengungkapkan, Pengumuman menggembirakan tersebut disampaikan Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) melalui surat tertulis. Setelah melalui proses seleksi dan rekomendasi dari Tim Penilai, satu dari 6 penelitian yang diajukan sudah dinyatakan lolos seleksi berdasarkan Surat Keputusan Pejabat Pembuat Komitmen Direktorat Sistem Inovasi dan Direktorat Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi. “Kita mendapat kabar baik itu secara tertulis melalui surat Dikti dengan No. 004/F1/PPK.2/Kp/IV/2018 tentang penetapan Proposal Penerimaan Pendanaan Program CPPBT. Dari 1154 lembaga di Indonesia yang ikut serta, Alhamdulillah! Penelitian dosen kita termasuk di antara 81 perwakilan lembaga yang lolos dengan pendanaan sebesar 256 juta,” tuturnya saat ditemui, Kamis, (12/4).

Saat ditanyai tujuan dari program tersebut, Yanti (akrabnya) mengatakan, berdasarkan keterangan tertulis dari Kemenristek Dikti, program itu dilaksanakan dalam rangka Penguatan Sistem Inovasi Nasional (SiNas), pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan meningkatkan inovasi guna mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan alasan tersebut maka Kemenristek Dikti memandang perlu menumbuhkan industri baru berbasis inovasi Iptek dari perguruan tinggi.

Sementara itu, Anni Nuraisyah, S.TP., M.Si. sebagai ketua peneliti bersama Rhestu Isworo, S.TP., M.Si. dan Nawang Sari mahasiswa Teknik Elektro angkatan 2017 sebagai anggota, menjelaskan dengan memanfaatkan daun Kelor sebagai bahan baku utama dan difermentasi menggunakan tricodherma akan membuat suplemen ikan cair yang akan dipasarkan di seluruh Indonesia. Produk dengan nama pasaran H-Fish (Healty Fish) tersebut ditargetkan akan mengurangi penggunaan pakan sebanyak 30 persen dan diharapkan dapat menjawab permasalah pakan yang selama ini terjadi di kalangan peternak ikan Lele. Hal ini juga akan menyebabkan peningkatan hasil produksi dalam waktu singkat dan dengan biaya murah. “Produknya akan dibagikan ke seluruh Indonesia sebanyak 3000 botol, sedangkan 1000 botol lainnya akan dipamerkan di Jogja bersama seluruh CPPBT yang mendapatkan dana hibah, juga akan dipamerkan dalam acara tahunan Sumbawa, Festival Moyo,” tutur perempuan lulusan IPB itu.

Alasan memilih ikan Lele, menurutnya, selain kandungan dalam satu ekor Lele, data Dirjen Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga menunjukkan kebutuhan ikan Lele di Indonesia yang mencapai 1,7 juta ton. Bahkan di NTB pun menurut data terakhir pada Januari 2018, sebanyak 30% kebutuhan Lele dipasar belum terpenuhi. “Setiap tahun produksi Lele tidak pernah menurun, bahkan tahun 2017 meningkat drastis. Kebutuhan ikan Lele di Lombok saja belum terpenuhi, dan itu menjadi potensi kita,” tutupnya. (SR)

Lihat Juga

TAGANA Beraksi Renovasi Rumah Perawan Tua

LOMBOK TENGAH, SR (24/04/2018) Ma’nah wanita paruh baya berumur 55 tahun kini tidak lagi memiliki ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *