Home / Ekonomi / Sumbawa Bebaskan Indonesia dari Impor Jagung

Sumbawa Bebaskan Indonesia dari Impor Jagung

SUMBAWA BESAR, SR (20/03/2018)

Kepala Badan Ketahanan Pangan Nasional Kementerian Pertanian RI, Dr. Agung Hendriadi M.Eng menyebutkan beberapa tahun berturut-turut Indonesia melakukan impor jagung. Hal ini disebabkan konsumsi jagung dalam negeri lebih tinggi dari produksi atau ketersediaan jagung yang ada. Tahun 2015 lalu, Indonesia masih menjadi importer jagung sekitar 3,2 juta ton. Jumlah impor ini menurun 62 persen pada tahun 2016 atau 1,1 juta ton, dan pada Tahun 2017 Indonesia tidak lagi mengimpor alias nol. Kenyataan ini salah satunya berkat dukungan NTB yang merupakan daerah rangking kelima sentra produksi jagung propinsi besar di Indonesia. Bukan hanya menyetop impor jagung, tapi Indonesia juga melakukan eskport jagung ke luar negeri dengan negara tujuan Filipina. Seperti yang dilakukan Kabupaten Sumbawa bekerjasama dengan PT Seger melakukan eksport perdana Tahun 2018 sebanyak 30 ribu ton jagung ke Filipina melalui Pelabuhan Badas Sumbawa, Selasa (20/3) siang tadi.

“Kami ucapkan selamat kepada Bupati Sumbawa, karena daerah ketiga yang melakukan eksport setelah Gorontalo dan Sulsel. Saya sangat bangga,” kata Dr Agung atas nama Menteri Pertanian Ir. H. Andi Amran Sulaiman di hadapan Pangdam IX Udayana Mayjen TNI Benny Susianto S.IP, Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi MA, Bupati Sumbawa HM Husni Djibril B.Sc, Wakil Bupati Drs. H. Mahmud Abdullah, Kepala Dinas Pertanian Provinsi NTB, Kadis Koperindag NTB, Pimpinan BNI Kanwil Bali-Nusra, Pemimpin BRI Wilayah Bali Nusra, Anggota Forkopimda Sumbawa, Sekda, Asisten dan kepala OPD serta kelompok tani jagung.

Berdasarkan laporan BPS Tahun 2017, ungkap Dr Agung, produksi jagung Indonesia mencapai 27,9 juta ton atau mengalami peningkatan 18,5 persen dibandingkan 2016 yaitu 23 juta ton. Pada tahun 2018 ini diperkirakan dengan konstribusi NTB dan beberapa propinsi besar lainnya, produksi nasional akan mencapai 30 juta ton. Jika diselisihkan dengan konsumsi masyarakat berkisar antara 23 juta ton, berarti terjadi surplus 7-8 juta ton. Ini merupakan prestasi yang dihasilkan dari keringat para petani jagung. Karenanya menjadi kewajiban pemerintah untuk membantu petani meningkatkan kesejahteraannya. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah menetapkan HPP (Harga Pembelian Pemerintah) dengan harga terendah untuk jagung sebesar Rp 3.150 per kilogram. “Jangan sampai produksi sudah meningkat harganya di bawah HPP. Kami sudah tanya ke PT Seger selaku eksportir berapa harga pembelian jagung ke petani, yang ternyata 3.200 rupiah perkilo. Dan dari laporan yang kami terima, harga pembelian jagung petani di NTB cukup tinggi berkisar Rp 3.300—3.600. Ini artinya di atas HPP. Kita tidak akan mengijinkan mereka beli jagung petani di bawah HPP. Untuk mengawasi hal ini kami minta Pangdam dan Kapolda untuk mengawalnya secara bersama-sama,” pintanya.

Ia tetap berharap produksi jagung terus ditingkatkan baik melalui intensitas tanam maupun luas areal tanam baru. “Jangan pernah puas dan menyerah dalam meningkatkan produksi. Kami apresiasi upaya Pemprov NTB dan Pemkab Sumbawa yang telah berjuang meningkatkan produksi jagung cukup signifikan, sehingga pada hari ini kita menorehkan sejarah baru yaitu eksport jagung yang kedua kalinya,” tandasnya.

Di bagian lain, Dr Agung Hendriadi M.Eng menyambut gembira pencanangan Program Gerakan Masyarakat Jagung Intergrasi Sapi (Gema Jipi). Program ini adalah impian pemerintah untuk bisa direalisasikan. Dan Kabupaten Sumbawa telah menginiasiasinya. Inisiatif daerah ini ungkap Agung, dinilai sangat penting karena sampai saat ini pemerintah pusat masih terus bergerak untuk bisa memenuhi kebutuhan daging. Apalagi NTB dan NTT adalah dua propinsi yang menjadi unggulan sebagai daerah penyuplai kebutuhan daging nasional. Melalui program yang mengkolaborasikan sektor pertanian melalui tanaman jagung dengan sapi pada sektor peternakan ini diharapkan limbah jagung dalam bentuk jerami, tongkol dan juga klobot (kulit buah jagung) dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak, dengan mengolahnya menjadi hay dan silase. Pengolahan tersebut, selain dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan pakan ternak, pemanfaatan limbah jagung dapat juga menghasilkan biomasa melalui proses olahan silase. Pastinya pemerintah pusat maupun propinsi akan memberikan dukungan terhadap keberlangsungan dan peningkatan program tersebut di masa mendatang. (JEN/SR)

Lihat Juga

Dr Zul Motivasi 528 Calon Mahasiswa Baru UTS

SUMBAWA BESAR, SR (24/04/2018) Pendiri Universitas Teknologi Sumbawa (UTS), Dr. H. Zulkieflimansyah bertemu calon mahasiswa ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *