Home / Kesehatan / Pasien Keluhkan Pelayanan Apotik Mitra BPJS

Pasien Keluhkan Pelayanan Apotik Mitra BPJS

Apotik Kerap Berdalih Kehabisan Stok

SUMBAWA BESAR, SR (26/01/2018)

Pasien BPJS kembali menemui kendala dalam mendapatkan pelayanan kesehatannya. Lazimnya persoalan yang kerap ditemui pasien ada pada fasilitas kesehatan atau dokter yang memberikan pelayanan. Tapi kali ini sedikit berbeda bahkan terjadi secara berulang-ulang. Pasalnya, apotik yang menjalin kerjasama dengan BPJS kerap tidak menyediakan obat yang dibutuhkan pasien. Ironisnya lagi tidak ada solusi yang diberikan, membuat pasien harus merogoh kocek untuk membeli obat di apotik lain.

Seperti yang dialami Ishak—warga Kelurahan Brang Bara Kecamatan Sumbawa. Kepada SAMAWAREA belum lama ini, Ia mengeluhkan pelayanan BPJS terutama di apotik yang menjadi mitra asuransi kesehatan milik pemerintah tersebut. Diceritakan Ishak, saat itu dia membawa istrinya, Hasna ke dokter untuk memeriksa penyakit gula darah dan hipertensi yang sudah lama dideritanya. Dokter pun mengeluarkan resep untuk ditebus di Apotik Kimia Farma—apotik di Sumbawa yang bekerjasama dengan BPJS. Sebab dia dan keluarganya adalah pasien BPJS. Ketika sampai di apotik tersebut, petugas setempat menyatakan jika obat yang diresepkan itu tidak tersedia. Ishak mengaku sangat kecewa, soalnya ini bukan yang pertama terjadi di apotik tersebut tapi masalah ini sudah berkali-kali. “Ini yang kelima yang saya alami di apotik ini. Istri saya setiap bulan kontrol di dokter. Setiap obat yang sama diresepkan selalu saja tidak lengkap diberikan Apotik Kimia Farma ini, kadang obat gula darahnya ada, obat hipertensinya tidak ada. Kadang juga dua-duanya tidak ada dan diminta menunggu kiriman distributor sampai satu minggu lamanya. Inikan pelayanan yang tidak becus,” sesalnya.

Saat itu di hadapan petugas Apotik, Ishak mengaku langsung menghubungi Kepala BPJS Perwakilan Sumbawa, Baiq Soraya Widiyanti. Kemudian pihak BPJS menghubungi petugas apotik tersebut. Dari komunikasi yang dia dengar, petugas apotik beralasan bahwa obat yang dibutuhkannya belum dikirim distributor. Meski demikian pihak BPJS tetap mendesak apotik untuk mencarikan solusi agar obat yang diresep tersebut tersedia. Setelah komunikasi petugas apotik dengan pihak BPJS selesai, Ishak kembali menanyakan permintaan BPJS agar apotik dapat mencari solusi. Lagi-lagi Apotik Kimia Farma ini tetap bersikukuh tidak bisa menyediakan obat yang diresep. “Ini sangat tidak bisa diterima secara logika. Kami sebagai pasien tidak nyaman dalam mendapatkan pelayanan kesehatan seperti ini. Harusnya jangan biarkan pasien pergi tanpa solusi. Sebagai apotik yang sudah menjalin kerjasama dengan BPJS harus bisa menjamin pasien BPJS terlayani dengan baik,” tukasnya.

Daripada berdebat tanpa solusi, Ishak akhirnya membeli obat tersebut di apotik lain dengan terpaksa mengeluarkan duit pribadi. Obat itu ternyata tersedia dan bukan barang langka. “Persoalannya, kita bukan tidak mau mengerti dengan keadaan apotik. Harusnya apotik itu siap sepanjang obat yang dibutuhkan pasien terakomodir BPJS. Terserah apotik itu mau meminjam di apotik atau bagaimanapun caranya asalkan pasien BPJS bisa terlayani. Jadi masalah obat bukan urusan pasien tapi apotik yang berani membangun kerjasama dengan BPJS,” tegasnya.

Masalah ini diakui Ishak, bukan hanya menimpa dirinya, melainkan banyak pasien lain yang mengalami hal yang sama terutama yang menderita penyakit sejenis dengan istrinya. Karena itu Ia mendesak BPJS untuk bisa menjalin kerjasama dengan beberapa apotik lainnya, sehingga masyarakat terutama pasien BPJS memiliki alternatif dan kemudahan dalam mendapat obat. “Bila perlu putuskan saja kerjasama dengan Apotik yang tidak bisa memberikan pelayanan terbaik kepada pasien BPJS,” desaknya.

Sementara itu Kepala Perwakilan BPJS, Baiq Soraya Widiyanti yang dikonfrontir, Jumat (26/1) mengakui adanya keluhan pasien BPJS tersebut. Kebetulan keluhan itu disampaikan kepadanya ketika Ishak berada di Apotik Kimia Farma. Pihaknya langsung mengkomunikasikannya dengan apotik dan mendapat jawaban jika obat yang dibutuhkan Ishak tersebut masih dalam proses pengiriman dari distributor. Sebenarnya ungkap Yanti—sapaan wanita ramah ini, stok obat itu cukup banyak dan diprediksi bisa bertahan hingga satu bulan ke depan. Tapi karena kebutuhan peserta yang datang ke apotik lumayan banyak, prediksi tersebut meleset. Meski demikian sebelum habis stok, Apotik Kimia Farma sudah memesannya ke distributor dan sampai adanya keluhan pasien, obat pesanan ini belum sampai. Namun apapun alasannya Yanti telah menegaskan kepada pihak apotik untuk mencari obat tersebut bagaimanapun caranya. Ini sudah tertuang dalam perjanjian kerjasama antara BPJS dengan Apotik Kimia Farma.  Kalaupun telat distribusi atau terjadi kendala harusnya ada komunikasi lebih jelas kepada peserta. Sebab pasien akan mengerti ketika cara berkomunikasinya dilakukan secara benar dan nyaman. “Saya agak keras dan tegas kepada apotik itu agar berusaha bagaimana caranya mendapatkan obat yang dibutuhkan Pak Ishak,” aku Yanti.

Tak berselang lama, Yanti mengaku dihubungi Ishak menginformasikan telah membeli obat di apotik lain menggunakan uang pribadi karena tidak ada upaya dari Apotik Kimia Farma menyediakan obat yang diresep. Mengetahui hal itu, Yanti kembali menghubungi dan menegur pihak apotik. Petugas apotik berdalih telah berusaha mencari dan apotik RSUD Sumbawa yang bersedia memberikan pinjaman obat ke apotiknya, belum ada. Sebagai konsekwensinya, Yanti meminta Apotik Kimia Farma mengganti uang pasien sesuai kwitansi pembelian obat dari apotik di luar mitra BPJS. Apotik Kimia Farma menyanggupinya. Yanti kembali menghubungi Ishak agar segera ke Apotik Kimia Farma membawa kwitansi pembelian obatnya agar dapat diuangkan. Selain itu apotik juga bersedia memberikan obat yang dibutuhkan Ishak dalam waktu satu bulan ke depan. Ishak pun mengiyakannya. “Setelah itu saya tidak lagi berkomunikasi dengan apotik maupun Pak Ishak, karena saya anggap masalah itu sudah beres,” ujar Yanti.

Beberapa hari kemudian, Ia kaget setelah dikonfirmasi SAMAWAREA karena masalah itu ternyata belum selesai. Dia pun kembali menghubungi Apotik Kimia Farma menanyakan masalah Ishak. Dari pihak apotik mengaku jika Ishak tidak datang ke apotik. “Saya marah dengan orang apotik, saya sesalkan mengapa mereka (apotik) tidak menghubungi saya kalau Pak Ishak tidak balik ke apotik. Dari pertama saya bertugas di Sumbawa saya tidak pernah mendapat informasi dari apotik tapi semuanya dari peserta yang mengeluhkan tentang pelayanan apotik,” bebernya.

Untuk diketahui, kerjasama BPJS dengan Apotik Kimia Farma diperpanjang sejak Desember 2017 lalu. Sebelum kerjasama ini ditandatangani, apotik tersebut telah berkomitmen untuk tidak mengulangi kejadian yang sama. Dalam perjanjian kerjasama ini juga ada pasal-pasal tentang hak dan kewajiban untuk dilaksanakan bersama.

Apotik Kimia Farma merupakan apotik satu-satunya yang bekerjasama dengan BPJS. Sebelumnya untuk mencari apotik mitra, BPJS melakukan survey dan pemetaan ke semua apotik menawarkan kerjasama dan mereka semua bersedia. Ketika bersedia disodorkan sejumlah ketentuan. BPJS mengharuskan apotik itu memenuhi 10 poin ketentuan. Ada apotik yang hanya bersedia 4 poin, ada yang 5 poin, bahkan ada juga yang hanya mampu memenuhi satu poin ketentuan. Dan hanya Apotik Kimia Farma yang bersedia memenuhi semua ketentuan tersebut dan dianggap apotik yang paling lengkap akan ketersediaan obatnya saat itu.

Dalam perjanjian itu, Apotik Kimia Farma berkomitmen memperbaiki layanannya. Apotik tersebut juga bersedia untuk melakukan MoU dengan apotik lain untuk memback-up ketika obat mereka tidak tersedia. “Komitmen ini ternyata tidak dijalankan ini dibuktikan masih adanya keluhan dari pasien. Masalah ini akan masuk dalam laporan evaluasi saya yang kemudian saya teruskan ke kantor cabang,” pungkasnya. (JEN/SR)

 

Lihat Juga

Kemenkes RI Rekomendasikan RSUD Sumbawa Tetap Type C

SUMBAWA BESAR, SR (30/8/2019) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sumbawa tetap menjadi rumah sakit type ...

One comment

  1. Ah sampai sekarang kimia farma masih saja begitu,saya pulang tanpa obat dan solusi…mungkin kalo datang pake uang cash langsung di tanggepin,kimia farma pasar minggu karyawannya mengecewakan,kimia farma durentiga tidak bisa pake bpjs,andai aku punya uang tak akan ku pakai bpjs untuk nebus obat cuma kondisi yang tak memungkinkan bagi kami rakyat kecil yang sangat bergantung sekali pada BPJS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *